News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Warga AS Menjerit, Harga Solar Melejit Tembus Rp85 Ribu Gegara Perang Iran

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Bobby Wiratama
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • Di AS, harga solar tembus Rp85.000 per galon (naik 34 persen), dipicu perang dengan Iran dan lonjakan harga minyak dunia.
  • Penutupan Selat Hormuz menghambat distribusi minyak dunia, memicu kenaikan harga energi secara drastis.
  • Kenaikan BBM picu inflasi, tekan daya beli warga, dan berpotensi mengguncang ekonomi meski International Energy Agency (IEA) sudah melepas cadangan minyak.

TRIBUNNEWS.COM - Dampak perang yang kian memanas antara Amerika Serikat – Israel dan Iran kini mulai terasa langsung oleh masyarakat sipil.

Lonjakan harga energi global membuat warga Amerika harus merogoh kocek lebih dalam, bahkan harga solar dilaporkan menembus 5,04 dolar AS atau sekitar Rp85.000 per gallon, dimana satuan per galon yang digunakan di AS setara dengan 3,8 liter.

Adapun kenaikan harga ini meningkat 34 persen jika dibandingkan dengan harga per galon sehari sebelum AS dan Israel melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Bahkan lonjakan tersebut mendorong harga solar ke level tertinggi sejak Desember 2022, ketika invasi skala penuh Rusia ke Ukraina mengguncang pasar energi global.

Selain solar, harga minyak mentah dunia juga ikut terkerek naik.  Diantaranya minyak acuan Brent kini menembus lebih dari 103 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS naik hingga di atas 96 dolar AS per barel.

Konflik Iran Jadi Pemicu Utama

Kenaikan harga bahan bakar di Amerika Serikat terjadi akibat rangkaian peristiwa global yang saling berkaitan, seiring memanasnya konflik dengan Iran.

Mengutip Anadolu, gangguan terbesar berasal dari terganggunya pasokan minyak dunia yang menjadi bahan baku utama produksi solar.

Situasi ini bermula sejak operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, termasuk tokoh penting Iran, Ali Khamenei, yang semakin memperuncing ketegangan di kawasan.

Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang menyasar berbagai target yang terkait dengan kepentingan Amerika Serikat.

Dampaknya meluas ke sejumlah negara di kawasan seperti Israel, Yordania, Irak, hingga negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, memperbesar skala konflik secara regional.

Baca juga: Saat Legenda dan Pecinta Bola Indonesia Dukung Timnas Iran Berlaga di Piala Dunia 2026

Kondisi semakin memburuk ketika Iran mengambil langkah strategis dengan menutup Selat Hormuz sebagai bentuk balasan.

Jalur vital ini sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap hari. Ketika arus distribusi terganggu, pasokan minyak mentah global ikut tersendat dan harga langsung melonjak tajam.

Kenaikan harga minyak mentah tersebut berdampak langsung pada biaya produksi bahan bakar di Amerika Serikat. 

Meski menjadi salah satu produsen minyak terbesar, AS tetap terikat dengan mekanisme pasar global. Artinya, lonjakan harga minyak dunia otomatis meningkatkan biaya pengolahan hingga distribusi solar di dalam negeri.

Warga AS Dihantui Ketidakpastian Ekonomi

Lebih lanjut kenaikan harga bahan bakar berpotensi mendorong inflasi karena energi merupakan komponen penting dalam berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari transportasi hingga kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Dalam upaya meredam gejolak tersebut, pemerintah Amerika Serikat bersama negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) telah mengambil langkah dengan melepas cadangan minyak strategis ke pasar global. 

Kebijakan ini diharapkan dapat menambah pasokan dan menahan laju kenaikan harga dalam jangka pendek.

Namun demikian, para analis menilai langkah tersebut belum cukup untuk mengatasi ketidakpastian yang masih tinggi. 

Selama faktor utama seperti konflik geopolitik dan gangguan pasokan belum terselesaikan, tekanan terhadap harga energi diperkirakan akan terus berlanjut.

Para ahli juga memperingatkan bahwa dampak krisis ini tidak hanya terbatas pada sektor energi. 

Kenaikan harga bahan bakar berpotensi menekan daya beli masyarakat, memperlambat pertumbuhan ekonomi, hingga memicu ketidakstabilan di tingkat global.

Dalam kondisi yang masih fluktuatif, warga Amerika kini dihadapkan pada dilema yang tidak mudah. 

Di satu sisi, mereka harus menanggung kenaikan biaya hidup yang terus meningkat, sementara di sisi lain, ketidakpastian ekonomi membuat banyak pihak menahan pengeluaran dan keputusan finansial jangka panjang.

(Tribunnews.com / Namira)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini