TRIBUNNEWS.COM, DUBAI - Sebelum perang di Timur Tengah, restoran-restoran di Dubai biasanya penuh sesak.
Hiruk pikuk para pengunjung, wisatawan, dan penduduk lokal memenuhi meja-meja di seluruh kota.
Namun sebulan terakhir, banyak meja tersebut tampak kosong.
Bagi Natasha Sideris, perubahan ini terjadi secara tiba-tiba dan drastis.
Ia membuka restoran pertamanya di Dubai pada tahun 2014.
Selama dekade terakhir, grup perhotelan Tashas miliknya telah berkembang menjadi 14 gerai di seluruh negeri, mempekerjakan lebih dari 1.000 orang.
Namun perang AS-Israel dengan Iran kini memberikan dampak buruk yang besar pada bisnisnya.
Sideris mengatakan banyak restorannya, yang populer di kalangan penduduk lokal maupun ekspatriat, mengalami penurunan pendapatan lebih dari 50 persen.
Namun, gerai yang sangat bergantung pada wisatawan terpukul jauh lebih parah, dengan penurunan 70% hingga 80%.
Krisis ini memaksanya untuk memotong gaji sebesar 30% untuk semua staf.
"Situasi saat ini sangat brutal," katanya.
"Saya punya pilihan – memecat 30% staf saya atau memotong gaji untuk menyelamatkan pekerjaan. Untuk saat ini, saya memilih yang terakhir."
Dubai adalah pusat ekonomi, pariwisata, dan bisnis utama di Uni Emirat Arab.
Jumlah pengunjung restoran turun
Dampaknya tidak hanya terbatas pada restoran.
Seluruh ekosistem pariwisata – mulai dari hotel dan agen perjalanan, hingga perusahaan transportasi dan maskapai penerbangan – merasakan tekanannya.
Baca tanpa iklan