TRIBUNNEWS.COM - Pengamat Intelijen dan Keamanan Nasional, Stepi Anriani, menyoroti langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memblokir Selat Hormuz, pasca-negosiasi AS-Iran di Pakistan yang digelar pada Sabtu (11/4/2026) lalu berakhir buntu.
Donald Trump telah menyatakan, AS akan memblokade Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur utama pasukan energi dunia, lewat platform Truth Social
“Mulai berlaku segera, Angkatan Laut AS akan memulai proses blokade terhadap seluruh kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Donald Trump, dilansir laman Bloomberg, Senin (13/4/2026).
Ia menambahkan, blokade akan terus berlangsung sampai Iran membuka Selat Hormuz untuk semua lalu lintas laut.
Dalam unggahan lebih lanjut, Donald Trump menambahkan, aksi blokade jalur laut yang terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman itu akan dimulai pada Senin (13/4/2026) pukul 10.00 pagi waktu setempat atau 21.00 WIB.
"AS akan memblokir kapal-kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran pada 13 April pukul 10.00 Waktu Timur (ET). Terima kasih atas perhatian Anda tentang hal ini!" kata Donald Trump.
Sebelum ancaman pemblokiran Selat Hormuz dilontarkan Donald Trump, dua unit kapal perusak rudal berpemandu Angkatan Laut AS telah memasuki Selat Hormuz pada Sabtu (11/4/2026), ketika negosiasi AS-Iran di Pakistan masih berlangsung.
Dua unit kapal tersebut, adalah USS Frank E. Petersen (DDG-121) dan USS Michael Murphy (DDG-112).
Keduanya merupakan kapal perang AS pertama yang melintasi selat tersebut sejak agresi militer Operation Epic Fury dilancarkan AS-Israel terhadap Iran sejak Sabtu (28/2/2026).
Dua kapal ini menjadi bagian dari rencana AS untuk “memastikan selat tersebut sepenuhnya bebas dari ranjau laut,” menurut siaran pers Komando Pusat AS (CENTCOM/US Central Command), Sabtu, dikutip dari laman US Naval Institute News, news.usni.org.
Pengamat: Iran Siap Hadapi Serangan
Baca juga: Tak Takut dengan Ancaman AS, Iran Tanggapi Santai Gertakan Trump: Kami Siap Bertarung
Terkait ancaman blokade Selat Hormuz dan mendekatnya dua kapal perang AS, Stepi Anriani menilai, ada kemungkinan besar AS akan melakukan serangan terhadap Iran dalam waktu dekat.
Sebab, militer AS tetap akan menjalankan perintah dari Donald Trump.
Namun, akademisi yang juga Direktur Eksekutif wadah pemikir Intelligence and National Security Studies (INSS) ini menilai, Iran tetap siap menghadapi segala serangan.
"Sangat mungkin [AS menyerang Iran dalam waktu dekat]," kata Stepi, dalam program Kompas Siang, Senin (13/4/2026).
"Kalau kita lihat, mau bagaimanapun, walaupun tentara Amerika atau publik atau para tokoh ini memiliki sense of crisis dan merasa menjadi bagian warga negara dunia, tapi ketika panglima tertingginya, President of the United States, memerintahkan sesuatu, pasti harus diikuti."
Baca tanpa iklan