TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) mulai memberlakukan blokade di Selat Hormuz pada hari ini, Senin (13/4/2026) pukul 21.00 WIB, menandai eskalasi tajam dalam perang dengan Iran yang telah berlangsung lebih dari enam minggu.
Langkah ini diambil setelah perundingan damai antara Washington dan Teheran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Menurut Bloomberg, Komando Pusat AS (CENTCOM) memastikan blokade berlaku untuk seluruh kapal yang masuk dan keluar pelabuhan Iran, termasuk di kawasan Teluk Arab dan Teluk Oman.
CENTCOM menegaskan operasi dilakukan secara netral dan tidak akan mengganggu kapal yang menuju pelabuhan non-Iran.
Lalu Lintas Kapal Terganggu
Tak lama setelah pengumuman, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz langsung terdampak.
CNN melaporkan sejumlah kapal berbalik arah, menyebabkan lalu lintas di jalur energi vital tersebut terganggu signifikan.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global, sehingga gangguan sekecil apa pun langsung berdampak pada pasar energi dunia.
Kondisi ini memperkuat kekhawatiran akan terganggunya pasokan dan potensi lonjakan harga energi dalam waktu dekat.
Operasi Laut Diperluas
Presiden AS, Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk tidak hanya memblokade pelabuhan Iran, tetapi juga mencegat kapal di perairan internasional yang diduga membayar biaya kepada Teheran.
Baca juga: Perundingan AS-Iran Gagal, Trump Cari Untung, Blokade Selat Hormuz jadi Strategi Penjualan Minyak
Langkah ini bertujuan menekan sumber pendapatan Iran dari sektor energi di tengah konflik yang terus meningkat.
Militer AS juga mulai melakukan operasi penyapuan ranjau di Selat Hormuz untuk membuka jalur pelayaran yang dinilai terancam.
Operasi ini menandai pergeseran konflik dari dominasi serangan udara ke konfrontasi laut yang lebih kompleks dan berisiko.
Iran Siaga Tempur
Iran merespons keras kebijakan tersebut dan menegaskan tetap memiliki kendali atas Selat Hormuz.
Teheran memperingatkan akan memberikan respons tegas terhadap setiap tindakan yang dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan.
Sejumlah laporan menyebut Iran telah meningkatkan kesiapan militernya di kawasan Teluk, meningkatkan risiko bentrokan langsung di laut.
Risiko Krisis Energi Global
Baca juga: Selat Hormuz Lumpuh Total, Tak Ada Kapal yang Melintas hingga Balik Arah, AS Salahkan Iran
Blokade Selat Hormuz tidak hanya berdampak militer, tetapi juga ekonomi global.
Gangguan di jalur ini berpotensi menghambat distribusi minyak, gas, dan komoditas penting lainnya.
Analis memperingatkan, jika ketegangan terus meningkat, dunia berisiko menghadapi krisis energi baru dengan dampak luas terhadap inflasi dan stabilitas ekonomi global.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan