News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Pengamat Timur Tengah Duga Amerika Tak Berani Buka Paksa Selat Hormuz, Ini Pertimbangannya

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Malvyandie Haryadi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

AS DINILAI GAGAL - Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf berikan keterangan kepada Host Tribun Network Geok Mengwan di Studio Tribunnews, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (15/4/2026). Dalam keteranganya, ia banyak menyinggung kegagalan Amerika Serikat mencapai misi dalam agresi militer di Iran. TRIBUNNEWS/LENDY RAMADHAN

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi senjata paling mematikan yang berhasil melumpuhkan ekonomi global, khususnya bagi Amerika Serikat. 

Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf menilai, langkah Iran menutup jalur distribusi minyak tersebut telah membuat posisi Amerika Serikat terjepit.

Faisal mengungkapkan, meski Amerika Serikat berstatus sebagai negara super power, mereka ternyata tidak berani mengambil langkah militer untuk membuka paksa selat tersebut.

Hal itu diungkapkan Faisal saat sesi wawancara khusus dengan Tribunnews di Studio Tribunnews, Palmerah, Jakarta, Rabu (15/4/2026). "Negara super power seperti Amerika ternyata tidak berani membuka paksa Selat Hormuz," kata Faisal.

Menurut Faisal, Amerika menyadari bahwa melakukan serangan darat ke Iran untuk mengamankan selat tersebut adalah kesalahan besar yang sangat berisiko.

Ketakutan ini terlihat dari upaya diplomasi Amerika yang justru menawarkan ide untuk mengelola Selat Hormuz secara bersama-sama dengan Iran.

"Amerika menawarkan bagaimana kita mengelola Selat Hormuz bersama. Tapi Iran menolak dengan alasan Amerika tidak punya kedaulatan di sana," ungkapnya.

Penutupan jalur logistik ini pun berdampak langsung pada meroketnya harga BBM di tingkat dunia, yang memicu protes besar di dalam negeri AS terhadap Presiden Donald Trump.

Namun, di sisi lain, Faisal juga menyoroti nasib kapal-kapal tanker milik Indonesia yang hingga kini dilaporkan belum bisa melintas di perairan strategis tersebut. Ia menduga hal ini berkaitan erat dengan posisi diplomasi Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto yang dinilai terlalu condong membela Amerika dan Israel.

"Masih dipertanyakan kenapa kapal tanker Indonesia belum bisa melintas. Ini mungkin dampak dari kebijakan luar negeri kita," tuturnya.

Faisal menilai, keberanian Iran dalam memegang kendali penuh atas Selat Hormuz telah membalikkan keadaan dalam peta kekuatan geopolitik. Iran kini berada pada posisi yang mendikte Amerika Serikat, bukan sebaliknya.

"Iran yang bakal menentukan kapan perang berakhir. Selama Amerika melancarkan agresi, Iran akan tetap bertahan dengan menutup selat itu," tandas Faisal.

Berikut petikan wawancara khusus dengan Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf bersama Tribunnews;

Tanya: Anda bilang posisi Indonesia sedang serba salah?

Jawab: Saya pernah WA (WhatsApp) salah satu pimpinan Hamas. Mereka kecewa ketika masuk Dewan Perdamaian.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini