News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Rumah Saudara Paus Leo XIV di Chicago Diteror Bom

Editor: Hasanudin Aco
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

SAPA VATIKAN - Paus Leo XIV pertama kali menyapa masyarakat di Basilika St Petrus Vatikan setelah terpilih sebagai Paus baru dalam proses konklaf. Akhir-akhir ini pemimpin umat Katolik ini jadi sorotan setelah saling kritik dengan Donald Trump soal perang di Iran. /Foto.dok

TRIBUNNEWS.COM, AS -  Polisi sedang menyelidiki ancaman bom yang ditujukan ke rumah saudara pemimpin umat katolik Paus Leo XIV bernama John Prevost di daerah Chicago, Amerika Serikat (AS) pada Kamis (16/4/2026) waktu setempat.

Polisi tidak menemukan bahan peledak atau bahan berbahaya setelah penggeledahan.

Ancaman bom dilaporkan pada Rabu malam di rumah John Prevost tepatnya di New Lenox, Illinois, dikutip dari Reuters.

Prevost tinggal di jalan yang sama yang disebut polisi sebagai lokasi serangan tersebut.

Ancaman itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu menyerang Paus Leo XIV atas kritiknya terhadap perang di Iran. 

Paus Leo berasal dari Chicago, AS.

Polisi di New Lenox  mengevakuasi rumah-rumah di sekitarnya saat mereka melakukan pencarian bahan peledak di area tersebut.

"Setelah pemeriksaan cermat, para penyidik ​​menetapkan bahwa ancaman tersebut tidak berdasar dan tidak ada alat peledak atau bahan berbahaya yang ditemukan," kata polisi.

Mereka mengatakan bahwa penyelidikan masih berlanjut untuk menemukan asal muasal laporan palsu tersebut.

Leo pemimpin Gereja Katolik  1,4 miliar umat sedunia beberapa hari ini jadi sorotan global setelah saling balas kritik dengan Donald Trump soal perang Iran.

Paus Leo di Kamerun

Saat ancaman bom menimpa saudaranya, Paus Leo sedang berada di Kamerun, Benua Afrika.

Dalam pidatonya di depan ribuan umat Katolik di Kamerun, Paus Leo mengecam para pemimpin yang menghabiskan miliaran dolar untuk perang dan mengatakan dunia "sedang dihancurkan oleh segelintir tiran".

Leo, paus pertama dari AS, juga mengecam para pemimpin yang menggunakan bahasa agama untuk membenarkan perang dan mendesak "perubahan haluan yang tegas".

"Para ahli perang berpura-pura tidak tahu bahwa hanya butuh sesaat untuk menghancurkan, namun seringkali seumur hidup pun tidak cukup untuk membangun kembali," kata Paus dikutip dari Reuters.

"Mereka menutup mata terhadap fakta bahwa miliaran dolar dihabiskan untuk pembunuhan dan kehancuran namun sumber daya yang dibutuhkan untuk penyembuhan, pendidikan, dan pemulihan sama sekali tidak ditemukan."

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini