News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

AS Susun Daftar Sekutu NATO ‘Nakal dan Baik’, yang Tak Dukung Perang Iran Terancam Disanksi

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Tiara Shelavie
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • Donald Trump dorong klasifikasi sekutu NATO jadi “baik” dan “nakal” berdasarkan dukungan perang Iran, sebagai bentuk tekanan politik.
  • Sekutu “baik” berpotensi dapat tambahan pasukan dan kerja sama militer, sementara yang “nakal” terancam sanksi seperti pengurangan dukungan pertahanan.
  • Perbedaan sikap NATO picu kebijakan ini, Trump bahkan lebih condong ke sekutu Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab yang dinilai lebih loyal.

TRIBUNNEWS.COM - Presiden AS, Donald Trump, tengah mendorong evaluasi menyeluruh terhadap negara-negara anggota aliansi pakta pertahanan NATO dengan mengelompokkan mereka ke dalam kategori “baik” dan “nakal”.

Pengelompokan tersebut didasarkan pada sejauh mana masing-masing negara mendukung operasi militer maupun kebijakan strategis Washington terkait konflik dengan Iran.

Kebijakan ini menjadi sinyal bahwa tekanan AS tidak hanya ditujukan kepada Teheran.

Tetapi juga sebagai upaya politik untuk mendorong negara-negara NATO meningkatkan kontribusi, baik dalam bentuk dukungan militer, logistik, maupun pendanaan.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth telah menegaskan bahwa sekutu yang dianggap “teladan” akan mendapatkan perlakuan khusus.

Berupa penambahan pasukan AS di wilayah mereka, akses kerja sama militer yang lebih luas, serta dukungan strategis tambahan dari Washington.

Adapun daftar Polandia, Jerman, serta negara-negara Baltik disebut sebagai contoh negara baik karena dinilai aktif meningkatkan anggaran pertahanan dan mendukung kebijakan Amerika Serikat.

Sebaliknya, negara yang tidak memenuhi ekspektasi berpotensi menghadapi konsekuensi sanksi.

Meski hingga kini belum ada rincian resmi terkait bentuk sanksi yang akan diterapkan.

Namun mengutip dari Politico, AS kemungkinan akan memberlakukan pengurangan kehadiran militer, pembatasan latihan bersama, hingga penurunan kerja sama pertahanan.

"Sekutu yang masih gagal menjalankan perannya dalam pertahanan bersama akan menghadapi konsekuensi," tegas Menteri Perang AS Pete Hegseth..

Perbedaan Sikap NATO Picu Langkah AS

Adapun langkah ini diberlakukan AS sebagai respons atas ketidaksamaan dukungan dari negara-negara aliansi terhadap kebijakan Washington.

Pemerintah AS menilai ketidaksamaan dukungan dari sekutu telah menciptakan ketidakseimbangan kontribusi dalam aliansi.

Baca juga: Amerika Ulangi Kesalahan Sejarah, Perang Iran Picu Murka Eropa

Sejumlah sumber diplomatik menyebut, beberapa negara Eropa memilih menolak atau menunda dukungan, baik dalam bentuk militer maupun logistik.

Sikap ini dipandang Washington sebagai kurangnya komitmen terhadap kepentingan bersama, terutama dalam situasi krisis yang membutuhkan respons kolektif.

Presiden Donald Trump dalam beberapa kesempatan menegaskan bahwa Amerika Serikat selama ini menanggung beban terbesar dalam pendanaan dan pertahanan NATO.

Ia menilai sejumlah sekutu belum memenuhi kewajiban, khususnya terkait target belanja pertahanan yang telah disepakati bersama.

Ketidakpuasan tersebut kemudian berkembang menjadi sinyal tekanan politik. 

Alhasil Washington mulai mempertimbangkan evaluasi ulang komitmen pendanaan, sekaligus menyusun skema pengelompokan sekutu ke dalam kategori “baik” dan “nakal”.

Melalui langkah ini, AS berupaya memberikan insentif kepada negara yang mendukung kebijakannya, serta menekan negara yang dinilai kurang kooperatif.

Trump "Anak Emaskan" Sekutu Timteng

Di tengah ketegangan dengan sekutu Barat, Trump juga menunjukkan kedekatan yang lebih besar dengan mitra di kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataannya, Trump menilai sekutu di Timur Tengah lebih responsif dan kooperatif terhadap kepentingan strategis Amerika Serikat.

Negara seperti Uni Emirat Arab disebut sebagai mitra yang dinilai konsisten mendukung kebijakan Washington, termasuk dalam hal stabilitas keamanan kawasan dan kerja sama militer.

Sebaliknya, sejumlah negara NATO dilaporkan memilih menahan atau menunda dukungan, baik dalam bentuk keterlibatan militer maupun logistik.

Pengamat menilai, kedekatan Trump dengan sekutu Timur Tengah didorong oleh beberapa faktor utama. 

Selain dukungan politik dan militer yang lebih solid, negara-negara di kawasan tersebut juga memiliki posisi strategis dalam jalur energi global serta kepentingan keamanan yang sejalan dengan Amerika Serikat.

Di sisi lain, sikap hati-hati negara-negara Eropa dalam merespons konflik Iran dipengaruhi oleh pertimbangan risiko eskalasi perang serta dampaknya terhadap ekonomi domestik. 

Perbedaan kepentingan inilah yang memperlebar jarak antara Washington dan sebagian sekutu Baratnya.

Situasi ini mencerminkan perubahan dinamika hubungan internasional, di mana aliansi tidak lagi sepenuhnya solid dalam menghadapi konflik global. 

Kedekatan Amerika Serikat dengan sekutu Timur Tengah sekaligus menjadi sinyal pergeseran prioritas strategis, di tengah tekanan terhadap NATO yang kian meningkat.

(Tribunnews.com / Namira)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini