Teheran juga secara terbuka menyatakan menolak segala bentuk negosiasi yang berlangsung di bawah ancaman.
AS Klaim Ada Kemajuan
Sementara itu di tengah konflik yang memanas, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengungkapkan bahwa Amerika Serikat terus mendorong kelanjutan dialog dengan Iran.
Ia menyebut utusan AS, termasuk Jared Kushner dan Steve Witkoff, dijadwalkan tiba di Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan yang sebelumnya sempat terhenti.
Menurut Leavitt, dalam beberapa hari terakhir Washington melihat adanya sinyal positif dari Teheran. Ia bahkan menyatakan bahwa Iran disebut telah menghubungi pihak AS guna membuka peluang pertemuan tatap muka sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan.
Pernyataan ini sempat memunculkan harapan baru di tengah kebuntuan diplomasi yang berlangsung. Namun, harapan tersebut langsung dibantah oleh pihak Iran.
Teheran menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk menggelar pertemuan langsung dengan delegasi Amerika Serikat.
Sikap ini memperlihatkan konsistensi Iran dalam menolak negosiasi terbuka selama syarat-syarat utama mereka belum dipenuhi, termasuk penghentian tekanan militer dan blokade laut.
Perbedaan pernyataan antara kedua negara semakin menegaskan bahwa komunikasi yang terjadi saat ini masih belum berada pada jalur yang sama.
Di satu sisi, AS mencoba menunjukkan adanya kemajuan untuk menjaga momentum diplomasi, sementara di sisi lain Iran tetap mempertahankan posisi tegasnya tanpa membuka ruang kompromi langsung, menunjukkan bahwa jalur diplomasi langsung antara Iran dan AS masih menemui jalan buntu.
Ketegangan yang terus berlanjut ini tidak hanya berdampak pada hubungan kedua negara, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi global.
Jalur perdagangan vital di Selat Hormuz mengalami gangguan akibat meningkatnya risiko keamanan, baik dari ancaman militer Iran maupun pembatasan pelayaran oleh AS terhadap kapal-kapal yang berafiliasi dengan Teheran.
Akibatnya, distribusi energi dunia, terutama minyak dan gas, ikut terhambat. Kondisi ini memicu kekhawatiran di pasar internasional karena berpotensi mendorong kenaikan harga energi serta mengganggu rantai pasok global.
(Tribunnews.com / Namira)
Baca tanpa iklan