Hakim Fakhr al-Din al-Aryan saat membuka sidang menyatakan, “Hari ini kita memulai persidangan pertama keadilan transisional di Suriah.”
Ia menegaskan bahwa proses hukum ini mencakup terdakwa yang hadir langsung maupun mereka yang melarikan diri dari keadilan.
Keluarga Korban Tuntut Hukuman Berat
Kerumunan warga berkumpul di luar gedung pengadilan untuk merayakan dimulainya persidangan.
Baca juga: Pengadilan Prancis Cari Lokasi Bashar al-Assad dan 20 Lainnya untuk Diadili
Banyak keluarga korban dari Daraa juga hadir untuk menyaksikan proses tersebut.
Salah satu penggugat, Ramez Abu Nabbout, mengatakan saudaranya tewas saat pasukan keamanan menembaki demonstran di Masjid Omari, Daraa.
“Dia adalah warga sipil dan cinta damai, tetapi Atef Najib menyambut para pengunjuk rasa damai dengan tembakan,” katanya kepada media.
Ia menambahkan bahwa keluarganya berharap Najib mendapat hukuman terberat, termasuk hukuman mati.
Juru bicara Kementerian Kehakiman Suriah, Baraa Abdulrahman, mengatakan sidang terbuka ini penting untuk memastikan transparansi, independensi peradilan, dan akuntabilitas nasional.
Pemerintah Baru Didesak Percepat Keadilan
Presiden sementara Ahmad al-Sharaa sebelumnya menghadapi kritik karena dianggap lambat menjalankan proses keadilan transisional yang dijanjikan setelah runtuhnya rezim Assad.
Namun kini, pemerintah mulai bergerak lebih agresif.
Pada Jumat lalu, otoritas Suriah juga menangkap mantan perwira intelijen Amjad Yousef, tersangka utama pembantaian Tadamon tahun 2013 di Damaskus.
Al Jazeera menyebut, Yousef diduga terlibat dalam pembunuhan sedikitnya 41 warga sipil.
Video bocor pada 2022 memperlihatkan seorang pria yang diyakini dirinya menembak tahanan dengan mata tertutup dan tangan terikat.
Bagi banyak warga Suriah, persidangan ini bukan sekadar proses hukum, tetapi simbol bahwa era impunitas rezim lama perlahan mulai berakhir.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan