TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) telah menghabiskan sekitar 25 miliar dolar AS dalam konflik melawan Iran, menurut pejabat senior Pentagon dalam kesaksian di hadapan DPR.
Pelaksana tugas Kepala Keuangan Departemen Pertahanan, Jules W. Hurst III, menyatakan bahwa sebagian besar anggaran digunakan untuk pembelian amunisi.
Selain itu, biaya operasi, pemeliharaan, serta penggantian peralatan juga menjadi bagian dari total pengeluaran tersebut.
Hurst menambahkan, Pentagon akan segera mengajukan permintaan anggaran tambahan kepada Kongres melalui Gedung Putih setelah evaluasi menyeluruh terhadap biaya konflik selesai dilakukan.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut proposal anggaran sebesar 1,5 triliun dolar AS untuk tahun fiskal 2027 mencerminkan urgensi situasi keamanan saat ini.
Ia juga menilai langkah tersebut penting untuk memperkuat kembali basis industri pertahanan yang sebelumnya dinilai melemah.
Baca juga: Serangan Israel di Lebanon Selatan Meningkat, Hizbullah Tembak Jatuh Drone Pasukan Zionis
Hegseth menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran bukanlah kesalahan strategis, dan menyatakan dukungan publik Amerika masih kuat, mengutip Anadolu Agency, Kamis (30/4/2026).
Ia juga membantah adanya kekurangan pasokan amunisi global, seraya menekankan bahwa anggaran baru akan memungkinkan peningkatan produksi rudal hingga tiga hingga empat kali lipat.
Dalam kesaksiannya, Hegseth turut menyoroti ancaman teknologi, termasuk penggunaan drone dan persaingan di bidang komputasi canggih.
Ia bahkan mengusulkan pembentukan komando khusus untuk peperangan otonom di masa depan.
Ketua Kepala Staf Gabungan, Dan Caine, menambahkan bahwa perubahan karakter perang yang cepat.
Mulai dari teknologi otonom hingga operasi siber dan luar angkasa, menuntut investasi besar untuk menjaga keunggulan militer AS.
Terkait dinamika global, Hegseth juga menyinggung konflik di Ukraina serta meningkatnya keterlibatan Eropa dalam pembiayaan dukungan militer.
Sementara itu, penempatan tiga kapal induk AS di Timur Tengah dinilai sebagai keputusan strategis yang telah diperhitungkan matang oleh Presiden Donald Trump.
(*)
Baca tanpa iklan