TRIBUNNEWS.COM - Harga bensin di Amerika Serikat (AS) melonjak hingga rata-rata 4,30 dolar AS per galon, level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Dikutip dari laporan Reuters Jumat (1/5/2026), lonjakan ini terjadi di tengah gangguan pasokan akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Sebelum perang dimulai pada akhir Februari, harga bensin masih berada di bawah 3 dolar AS per galon, Bloomberg melaporkan.
Dalam beberapa pekan terakhir, Reuters mencatat harga bahkan naik lebih dari 40 persen di sejumlah wilayah Amerika Serikat.
Efek Domino Blokade Selat Hormuz
Ketegangan di Selat Hormuz menjadi pemicu utama lonjakan harga energi global, dilansir The Guardian.
Trading Economics menyebut sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati jalur vital tersebut yang kini terganggu akibat konflik.
Axios melaporkan harga minyak mentah dunia sempat melonjak di atas 126 dolar AS per barel, tertinggi sejak 2022.
Kondisi ini memperketat pasokan global dan mendorong harga BBM naik di berbagai negara.
Baca juga: Trump: Biarkan Iran Ikut Piala Dunia di AS
Trump Janji Harga Akan Turun
Lonjakan harga BBM mulai menekan ekonomi domestik Amerika Serikat secara luas.
Pemerintah negara bagian California dalam pernyataan resminya menyebut kenaikan harga energi memicu inflasi dan meningkatkan biaya hidup masyarakat.
Harga bahan bakar jet ikut melonjak, memaksa maskapai menaikkan tarif tiket dan biaya tambahan bagi penumpang.
Sejumlah maskapai bahkan mulai mengurangi penerbangan akibat lonjakan biaya operasional yang signifikan.
Presiden AS, Donald Trump menegaskan kenaikan harga ini hanya bersifat sementara.
Reuters melaporkan Trump menyatakan harga bensin akan “turun drastis” setelah perang Iran berakhir.
Ia juga menegaskan Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir meski konflik terus berlanjut.
Baca tanpa iklan