Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Ketegangan di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada negara-negara besar, tetapi juga menyeret warga sipil, termasuk nelayan Indonesia yang bekerja jauh dari tanah air.
Sebanyak 13 nelayan Indonesia dilaporkan terjebak selama lebih dari satu bulan di pelabuhan Konarak, Iran, di tengah situasi keamanan yang memburuk akibat serangan militer.
Peristiwa ini bermula pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Para nelayan yang saat itu sedang melaut mengetahui kabar tersebut dan memutuskan untuk menghentikan aktivitas penangkapan ikan demi keselamatan.
Mereka kemudian kembali ke pelabuhan Konarak di wilayah selatan Iran dan bertahan di atas kapal sambil menunggu situasi mereda. Namun, kondisi justru semakin memburuk.
Hidup dalam Ketakutan
Pelabuhan Konarak diketahui berada dekat dengan fasilitas strategis, termasuk pangkalan angkatan laut Iran dan instalasi energi. Pada awal Maret, kawasan tersebut menjadi target serangan besar.
Salah satu nelayan mengaku hidup dalam ketakutan setiap hari.
Baca juga: 100 Soal KNMP dan Kunci Jawaban Tes Kampung Nelayan Merah Putih 2026
“Kalau misil meleset dan jatuh ke sini, kami tidak akan selamat. Kami bahkan tidak bisa tidur di malam hari,” ujarnya dengan suara bergetar.
Selama lebih dari sebulan, mereka harus menyaksikan langsung asap hitam membumbung di seberang pantai yang masih terlihat dengan mata telanjang.
Suara ledakan terdengar berkali-kali, memperparah rasa cemas yang terus menghantui.
Terputus dari Dunia Luar
Situasi semakin sulit karena pemerintah Iran memberlakukan pembatasan internet sejak akhir Februari.
Akibatnya, para nelayan tidak dapat menghubungi keluarga mereka di Indonesia.
Kondisi ini menambah tekanan psikologis. Selain menghadapi ancaman fisik dari serangan, mereka juga harus menanggung ketidakpastian tanpa komunikasi dengan orang-orang terdekat.
Setelah lebih dari satu bulan terjebak, para nelayan akhirnya berhasil menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Iran dan meminta bantuan evakuasi.
Baca tanpa iklan