News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Ajukan 14 Syarat Damai, Trump Bimbang, Konflik Memanas dan Dunia Menahan Napas

Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TRIBUNNEWS.COM - Iran kembali mengajukan langkah diplomatik dengan menyodorkan proposal 14 poin kepada Amerika Serikat (AS) sebagai upaya mengakhiri konflik secara permanen.

Proposal ini dikirim melalui mediator Pakistan di tengah gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung sejak 8 April.

Al Jazeera melaporkan bahwa proposal tersebut merupakan respons atas rencana sembilan poin dari Washington.

Berbeda dengan pendekatan sebelumnya, Teheran kini menargetkan penyelesaian penuh dalam waktu 30 hari, bukan sekadar perpanjangan gencatan senjata.

Isi proposal mencakup sejumlah tuntutan strategis, seperti jaminan tidak adanya serangan di masa depan, penarikan pasukan AS dari sekitar Iran, pencabutan sanksi ekonomi, hingga pembebasan aset Iran yang dibekukan.

Selain itu, Iran juga meminta ganti rugi perang serta pembentukan “mekanisme baru” untuk mengatur Selat Hormuz.

Iran juga menegaskan haknya untuk tetap melakukan pengayaan uranium sebagai bagian dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), sebuah poin yang langsung berbenturan dengan posisi Amerika Serikat.

Trump Ragu, Ancam Lanjutkan Serangan

Menanggapi proposal tersebut, Donald Trump mengaku masih mempelajarinya, namun memberi sinyal skeptis terhadap peluang kesepakatan.

“Jika mereka melakukan sesuatu yang buruk, ada kemungkinan hal itu bisa terjadi,” kata Trump kepada wartawan, merujuk pada kemungkinan dilanjutkannya serangan militer.

Dalam pernyataan lain, Trump juga menegaskan bahwa Iran belum membayar harga yang cukup atas tindakannya selama puluhan tahun, sehingga sulit membayangkan proposal tersebut akan diterima.

Ia tetap bersikeras bahwa Iran harus menghentikan blokade Selat Hormuz dan membatasi program nuklirnya, dua isu yang menjadi “garis merah” bagi Washington.

Selat Hormuz dan Nuklir Jadi Titik Bentur

Kebuntuan negosiasi terutama disebabkan oleh dua isu utama: pengayaan uranium dan kontrol atas Selat Hormuz. Jalur laut ini sangat vital karena dilalui sekitar 20 persen pasokan energi dunia.

Baca juga: Iran: Trump Akui Seperti Bajak Laut Blokade Kapal di Selat Hormuz, PBB Harus Bertindak

Blokade de facto Iran terhadap selat tersebut merupakan respons atas serangan AS dan Israel sebelumnya. Di sisi lain, Amerika Serikat juga memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran, memperparah ketegangan.

Akibatnya, konflik tidak hanya terjadi di meja diplomasi, tetapi juga berlanjut di laut melalui aksi saling cegat dan penangkapan kapal.

Analis: Ketidakpercayaan Jadi Hambatan Terbesar

Menurut Paul Musgrave, profesor di Universitas Georgetown, Iran sebenarnya telah menunjukkan sedikit pelunakan dalam proposalnya.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini