TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan yang diduga dilakukan Iran terhadap Uni Emirat Arab (UEA) memicu gelombang kecaman global.
Serangan tersebut disebut menyasar fasilitas energi strategis dan jalur pelayaran vital di kawasan Teluk, yang selama ini menjadi urat nadi distribusi energi dunia.
Insiden ini terjadi di tengah rapuhnya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat, sekaligus meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.
Negara-negara di Timur Tengah hingga Barat langsung bereaksi keras, menilai serangan ini sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan dan keamanan global.
Ketegangan di Selat Hormuz pun kembali menjadi sorotan, mengingat jalur ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Iran
Pemerintah Iran membantah tuduhan keterlibatan dalam serangan terhadap UEA.
Baca juga: Serangan AS ke Kapal Cepat IRGC Meleset, Iran Sebut 5 Warga Sipil Jadi Korban
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan agar situasi tidak semakin memburuk.
“Amerika Serikat dan UEA harus berhati-hati agar tidak terseret kembali ke dalam konflik yang lebih dalam,” ujarnya.
Al Jazeera melaporkan, media pemerintah Iran juga mengutip pejabat militer yang menyatakan Teheran “tidak memiliki rencana” untuk menargetkan UEA.
Uni Emirat Arab (UEA)
UEA menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 15 rudal dan empat drone.
Serangan tersebut bahkan memicu kebakaran besar di kawasan industri minyak Fujairah.
Menurut pejabat setempat, insiden itu merupakan ancaman serius terhadap infrastruktur vital.
“Serangan ini merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan dan keamanan negara kami,” tegas otoritas UEA, dikutip Al Jazeera.
Arab Saudi
Arab Saudi mengecam keras serangan tersebut dan menyatakan solidaritas penuh kepada UEA.
“Kami mengecam dengan sekeras-kerasnya tindakan Iran yang menargetkan fasilitas sipil dan ekonomi,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Saudi.
Baca tanpa iklan