News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Perang Iran Vs AS Mulai Reda, Giliran Perompak Somalia yang Beringas

Editor: Hasanudin Aco
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi perampok Somalia./Youtube: Tribun Jogja

Ringkasan Berita:

  • Presiden Donald Trump menyebut AS dan Iran mulai menunjukkan tanda perdamaian setelah berlangsungnya perundingan positif terkait konflik di Timur Tengah dan dibukanya kembali Selat Hormuz.
  • Iran juga dikabarkan tengah meninjau usulan perdamaian AS untuk mengakhiri perang.
  • Di sisi lain, ancaman keamanan maritim meningkat di kapal Somalia setelah maraknya pembajakan oleh perompak, termasuk kapal yang membawa WNI serta sejumlah kapal asing di perairan Afrika Timur.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Perang di Timur Tengah antara Iran dengan Israel yang dibantu Amerika Serikat (AS) memperlihatkan tanda-tanda akan mulai reda.

Presiden AS Donald Trump mengatakan telah melakukan "pembicaraan yang sangat baik" dengan Iran selama 24 jam terakhir.

"Dan sangat mungkin kita akan mencapai kesepakatan," katanya dikutip dari AFP, Kamis (7/5/2026).

Sementara Iran meninjau proposal perdamaian AS yang menurut sumber akan secara resmi mengakhiri perang.

Tanda-tanda positif kedua pihak yang berseteru dapat kembali ke meja perundingan setelah Presiden Trump menghentikan operasi militer singkat untuk membuka kembali Selat Hormuz, dengan alasan harapan akan tercapainya kesepakatan.

Perampokan di Somalia Merajalela

Jika tanda-tanda perdamaian mulai muncul di Timur Tengah khususnya di Selat Hormuz namun tidak demikian halnya dengan peraian di wilayah Afrika.

Bulan lalu, empat Warga Negara Indonesia atau WNI yang menjadi anak buah kapal (ABK) dari kapal MT Honour 25 yang dibajak oleh perompak saat berlayar di perairan Hafun, Somalia. 

Kejadian ini dilaporkan terjadi pada Rabu (22/4/2026) lalu.

Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah dalam press briefing di Kantor Kemlu RI, Jakarta Pusat, Kamis (30/4/2026) menyatakan proses penanganan kejadian pembajakan kapal oleh perompak Somalia  masih terus dilakukan.

Perampokan Terbaru di Perairan Somalia

Pekan lalu perompak Somalia membajak kapal  Fahad-4, Emirat yang bermuatan lemon.

Namun kemarin  para perompak itu meninggalkan kapal di laut setelah gagal menggunakan kapal tersebut untuk menyerang kapal lain, demikian sumber keamanan di negara bagian Puntland, Somalia, mengatakan kepada AFP.

Menyusul serangkaian pembajakan serupa baru-baru ini, Pusat Informasi Maritim Gabungan pada awal Mei menaikkan tingkat ancaman pembajakan menjadi "parah", tingkat tertinggi kedua.

JMIC, yang dikelola oleh koalisi besar beranggotakan 47 negara yang dikerahkan di Samudra Hindia bagian utara untuk memerangi ancaman bajak laut yang telah lama ada di Tanduk Afrika, perahu layar tersebut diserang sekitar 10 mil laut dari kota pesisir Dhinowda di timur laut Somalia.

Para pejabat keamanan Puntland mengatakan kepada AFP bahwa kru bajak laut tersebut berangkat dari daerah dekat pelabuhan Garacad, sekitar 600 kilometer di utara ibu kota Somalia, Mogadishu.

Setelah menguasai kapal layar tersebut, para perompak "berlayar di perairan Somalia menggunakan kapal yang dibajak sebagai kapal induk untuk mencoba menyerang kapal-kapal lain", kata salah satu sumber kepada AFP.

Kapal-kapal lain yang dibajak dalam beberapa pekan terakhir masih berada di tangan para perompak.

Menurut pengamat maritim, para perompak juga telah merebut kapal tanker Honour 25 berbendera Barbados pada tanggal 21 April di lepas pantai Puntland.

Beberapa hari kemudian, pada tanggal 26 April, kapal M/V Sward yang mengibarkan bendera Suriah menjadi korban di lepas pantai Somalia.

Di seberang Teluk Aden, para perompak menguasai kapal tanker bensin Eureka berbendera Togo di lepas pantai Yaman sebelum mengarahkan kapal tersebut menuju pantai Somalia.

 

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini