Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump mengklaim perang dengan Iran bisa segera berakhir setelah pembicaraan terbaru disebut berjalan positif.
- Meski Washington menunjukkan optimisme, Iran menegaskan bahwa proposal perdamaian dari AS masih dalam tahap peninjauan.
- Salah satu isu terbesar dalam negosiasi adalah kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur laut strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyatakan optimisme bahwa perang dengan Iran dapat segera berakhir setelah berlangsungnya pembicaraan intensif dalam beberapa hari terakhir.
Al Jazeera melaporkan, Trump mengatakan negosiasi dengan Teheran berjalan “sangat baik” dan peluang tercapainya kesepakatan damai semakin besar.
“Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat baik selama 24 jam terakhir, dan sangat mungkin kami akan mencapai kesepakatan,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Dalam pernyataan lain kepada PBS, Trump bahkan mengatakan perang dapat “berakhir dengan cepat” apabila Iran menerima syarat-syarat yang diajukan Washington.
Namun, Trump juga kembali melontarkan ancaman keras jika pembicaraan gagal.
“Saya pikir ini memiliki peluang yang sangat bagus untuk berakhir, dan jika tidak berakhir, kita harus kembali membombardir mereka habis-habisan,” katanya.
Iran Belum Beri Jawaban Final
Meski Washington menunjukkan optimisme, Iran menegaskan bahwa proposal perdamaian dari AS masih dalam tahap peninjauan.
BBC melaporkan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan Teheran belum memberikan respons resmi kepada mediator Pakistan.
“Usulan Amerika masih ditinjau oleh Iran,” kata Baghaei kepada media Iran.
Reuters melaporkan, proposal tersebut disebut berbentuk nota kesepahaman satu halaman berisi 14 poin yang dapat menjadi dasar penghentian perang dan negosiasi nuklir baru.
Baca juga: Trump Sangat Yakin AS Bisa Damai dengan Iran, Jawaban Teheran Masih Abu-abu
Menurut Axios yang dikutip Reuters, proposal itu mencakup penghentian pengayaan uranium Iran selama sedikitnya 12 tahun sebagai imbalan pencabutan sanksi AS dan pelepasan aset Iran yang dibekukan.
Dokumen tersebut juga disebut memuat pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan ditandatangani.
Namun, sejumlah pejabat Iran mengecam isi proposal tersebut.
Anggota parlemen Iran Ebrahim Rezaei menyebut dokumen itu “lebih merupakan daftar keinginan Amerika daripada kenyataan”.
Ketua parlemen Iran Mohammad Baqer Ghalibaf bahkan mengejek laporan soal kesepakatan damai dengan menyebutnya sebagai “Operasi Trust Me Bro gagal”.
Selat Hormuz Tetap Jadi Titik Panas
Salah satu isu terbesar dalam negosiasi adalah kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur laut strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Al Jazeera melaporkan, Iran menegaskan bahwa kendali terhadap Selat Hormuz merupakan garis merah yang tidak bisa dinegosiasikan.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan mengumumkan aturan baru bagi kapal-kapal yang melintas di selat tersebut, termasuk kewajiban pembayaran menggunakan mata uang Iran.
Di sisi lain, Amerika Serikat menilai Iran tidak boleh menentukan siapa yang dapat menggunakan jalur laut internasional tersebut.
BBC melaporkan, Trump sebelumnya sempat meluncurkan operasi militer “Project Freedom” untuk mengawal kapal-kapal keluar dari Teluk Persia, tetapi operasi itu kemudian ditunda setelah muncul sinyal kemajuan diplomatik.
Komando Pusat AS (CENTCOM) juga mengklaim telah melumpuhkan kapal tanker berbendera Iran yang dianggap melanggar blokade di Teluk Oman.
Netanyahu Desak Uranium Iran Dipindahkan
Baca juga: Trump Klaim Kesepakatan dengan Iran di Depan Mata, Ancam Serangan Jika Negosiasi Gagal
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dirinya memiliki “koordinasi penuh” dengan Trump terkait Iran.
Reuters melaporkan, Netanyahu menegaskan Israel dan AS sama-sama menginginkan seluruh uranium yang diperkaya dipindahkan dari Iran dan kemampuan pengayaan uranium Teheran dibongkar total.
Namun Iran tetap menolak menyerahkan sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya tinggi.
Teheran menegaskan program nuklirnya bertujuan damai dan bukan untuk pengembangan senjata nuklir.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Pakistan menyatakan negaranya terus berupaya mengubah gencatan senjata sementara menjadi penghentian perang permanen.
Meski peluang diplomasi mulai terlihat, ancaman konflik baru masih membayangi kawasan Timur Tengah, terutama jika negosiasi damai kembali menemui jalan buntu.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan