TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mengguncang jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Al Jazeera melaporkan sekitar 20.000 pelaut kini terjebak di kawasan Teluk setelah Selat Hormuz praktis lumpuh akibat konflik militer yang terus berlanjut.
Padahal sebelum perang pecah, Selat Hormuz menjadi jalur utama bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Selain itu, hampir sepertiga perdagangan pupuk global juga melewati jalur laut tersebut.
Konflik bermula setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan “Operasi Epic Fury” pada 28 Februari lalu bersama Israel untuk menyerang Iran.
Sebagai balasan, Iran meningkatkan ancaman terhadap kapal-kapal komersial dan memperketat akses di Selat Hormuz.
Meski gencatan senjata diumumkan pada 7 April, situasi di lapangan belum benar-benar stabil.
Bentrokan sporadis masih terus terjadi di sekitar jalur perairan tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM mengklaim tiga kapal perusak Angkatan Laut AS diserang rudal, drone, dan kapal kecil Iran saat melintas di selat tersebut.
Militer Iran membantah tuduhan itu dan justru menuduh AS melanggar gencatan senjata lebih dulu dengan menyerang kapal tanker minyak Iran serta wilayah sipil di Pulau Qeshm.
Akibat situasi tersebut, aktivitas pelayaran internasional nyaris berhenti total.
Banyak kapal akhirnya tertahan di laut tanpa kepastian kapan bisa bergerak kembali.
Ribuan Pelaut Hidup dalam Ketakutan dan Ketidakpastian
Baca juga: Video AI Trump Terjebak di Selat Hormuz Viral, Diunggah Kedubes Iran
Di balik konflik geopolitik antara Washington dan Teheran, ribuan pelaut sipil kini menjadi korban yang terlupakan.
Al Jazeera melaporkan salah satu pelaut asal India bernama samaran Anish telah terjebak di pelabuhan Iran selama hampir 10 minggu.
Ia tiba di kawasan Shatt al-Arab beberapa hari sebelum perang dimulai dan sejak itu tidak bisa meninggalkan kapal.
Baca tanpa iklan