TRIBUNNEWS.COM - Militer Israel mulai mengalami kesulitan besar dalam menghadapi serangan drone canggih milik kelompok Hizbullah di Lebanon selatan.
Serangan drone yang terus meningkat disebut menjadi tantangan serius bagi sistem pertahanan Israel di tengah memanasnya konflik kawasan.
Situasi tersebut mencuat setelah stasiun televisi publik Israel, KAN, melaporkan bahwa pasukan Israel saat ini masih berupaya mencari cara efektif untuk menangkal drone serat optik milik Hizbullah yang dinilai semakin sulit dideteksi dan dicegat.
Kondisi itu lantas membuat kekhawatiran di kalangan militer dan pemerintah Israel semakin meningkat.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka mengakui bahwa drone dan rudal Hizbullah telah menjadi ancaman utama bagi keamanan negaranya.
Netanyahu bahkan meminta para komandan militer segera menyusun strategi baru untuk menghadapi perkembangan teknologi militer Hizbullah yang dinilai terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Pernyataan tersebut dianggap sebagai pengakuan langka bahwa Israel kini menghadapi tantangan baru yang tidak mudah diatasi di medan konflik Lebanon selatan.
Pengamat militer menilai kemampuan Hizbullah saat ini jauh lebih modern dibanding sebelumnya. Selain memiliki persenjataan yang lebih canggih, kelompok tersebut juga dinilai semakin terorganisasi dalam menjalankan operasi militer di wilayah perbatasan.
Drone Serat Optik Hizbullah Jadi Ancaman Serius
Adapun kemampuan Hizbullah yang semakin modern disebut tidak lepas dari perkembangan teknologi sistem serat optik yang digunakan militan sayap kanan Lebanon ini untuk membuat senjata drone jauh lebih sulit dideteksi maupun dicegat dibanding drone konvensional.
Berbeda dengan drone biasa yang mengandalkan sinyal radio atau komunikasi satelit, drone serat optik menggunakan kabel fisik untuk mengirim data dan perintah penerbangan.
Baca juga: Israel Serang Gaza dan Lebanon, Putra Pemimpin Hamas dan Kepala Unit Radwan Hizbullah Tewas
Sistem tersebut membuat drone tidak mudah terganggu oleh perangkat pengacau sinyal elektronik atau jammer yang selama ini menjadi andalan pertahanan Israel.
Akibatnya, banyak sistem pertahanan elektronik Israel tidak mampu memutus kendali drone Hizbullah saat berada di udara. Kondisi ini membuat drone dapat bergerak lebih stabil dan menyerang target militer dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Laporan Anadolu menyebut drone-drone tersebut terus menyerang kendaraan militer dan posisi pasukan Israel di Lebanon selatan. Hingga kini tentara Israel disebut belum menemukan solusi yang benar-benar efektif untuk menghadapi ancaman tersebut.
Situasi itu memaksa militer Israel mulai mengembangkan strategi baru. Salah satunya dengan memperkenalkan “sistem penargetan cerdas” di wilayah operasi Lebanon selatan guna meningkatkan kemampuan pelacakan drone.
Selain itu, tentara Israel juga membagikan ratusan alat penglihatan malam jenis “Dagger” kepada pasukan di lapangan. Perangkat tersebut digunakan untuk membantu prajurit mendeteksi dan menembak drone saat operasi malam hari.
Baca tanpa iklan