TRIBUNNEWS.COM - Ukraina mengusulkan “gencatan senjata bandara” kepada Uni Eropa (UE) sebagai upaya baru untuk meredakan perang dengan Rusia yang hingga kini masih buntu dalam jalur diplomasi.
Usulan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha saat menghadiri pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels.
Dalam proposal itu, Kyiv meminta kedua pihak menghentikan serangan terhadap bandara sipil maupun militer, termasuk infrastruktur penerbangan yang selama beberapa bulan terakhir menjadi sasaran serangan jarak jauh.
“Kita mungkin membutuhkan peran baru Eropa dalam upaya perdamaian kita. Mungkin kita bisa mencoba mencapai apa yang disebut gencatan senjata bandara,” kata Sybiha seperti dikutip Politico, Selasa (12/5/2026).
Usulan tersebut muncul setelah Ukraina beberapa kali melancarkan serangan drone dan rudal jarak jauh ke wilayah Rusia, termasuk ke Bandara Sheremetyevo di Moskow dan Bandara Pulkovo di St. Petersburg.
Menurut Kyiv, meningkatnya ancaman terhadap pusat penerbangan Rusia dapat mendorong Presiden Rusia Vladimir Putin untuk lebih terbuka terhadap kesepakatan terbatas demi mengurangi dampak perang terhadap infrastruktur vital.
Di sisi lain, Rusia juga terus melancarkan serangan udara dan rudal ke berbagai fasilitas Ukraina, termasuk bandara, depot militer, dan jaringan listrik.
Sybiha menegaskan Ukraina tidak ingin Eropa menggantikan peran Amerika Serikat dalam negosiasi.
Menurutnya, keterlibatan Eropa seharusnya hanya menjadi pelengkap jalur diplomasi yang sudah dipimpin Washington.
“Ini harus menjadi jalur pelengkap, bukan pengganti atau alternatif,” ujarnya.
Ia juga meminta negara-negara Eropa berbicara “dengan satu suara” agar proses diplomasi tidak semakin rumit.
Baca juga: Putin Pamer Rudal Sarmat, Klaim Senjata Nuklir Rusia ‘Paling Ampuh di Dunia’
UE Belum Merespons Usulan Ukraina
Respons Uni Eropa masih hati-hati dalam menentukan sikap terhadap usulan Ukraina mengenai gencatan senjata bandara.
Seorang pejabat Eropa yang mengetahui pembicaraan itu mengatakan negara-negara Eropa masih perlu menentukan tujuan yang jelas sebelum membuka kontak langsung baru dengan Moskow.
“Uni Eropa tidak bisa mengabaikan kenyataan,” kata pejabat tersebut, merujuk pada perang yang terus berlangsung dan kegagalan berbagai inisiatif perdamaian sebelumnya.
Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri, Kaja Kallas, mengatakan peran Eropa dalam proses perdamaian masih bisa dibahas dalam pertemuan berikutnya.
Baca tanpa iklan