TRIBUNNEWS.COM – Armada Global Sumud Nusantara tengah menjadi sorotan dunia setelah dua jurnalis Indonesia, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai Rifan Billah dari Republika, dikabarkan ditangkap militer Israel bersama rombongan Global Sumud Flotilla pada Senin (18/5/2026).
Global Sumud Flotilla sendiri merupakan armada sipil internasional terbesar yang berupaya menerobos blokade Gaza untuk mengantarkan bantuan kemanusiaan.
Guna mengulik lebih dalam kedua organisasi tersebut, berikut adalah penjelasan lengkap terkait Global Sumud Nusantara dan Global Sumud Flotilla.
Apa Itu Global Sumud Flotilla dan Nusantara?
Global Sumud Flotilla (GSF) adalah koalisi internasional masyarakat sipil yang mengorganisir armada kapal dan konvoi darat untuk memecah blokade ilegal Israel terhadap Jalur Gaza.
Nama “Sumud” berasal dari bahasa Arab yang berarti keteguhan atau ketahanan, mencerminkan semangat perlawanan damai warga Palestina.
Adapun di Misi Musim Semi 2026 ini, GSF melibatkan lebih dari 50-100 kapal dari berbagai negara, dengan ratusan partisipan dari puluhan negara termasuk rombongan Global Sumud Nusantara.
Flotilla ini sendiri merupakan kelanjutan dari upaya sebelumnya dan melibatkan koalisi seperti Freedom Flotilla Coalition, Global Movement to Gaza, Maghreb Sumud Flotilla, serta Sumud Nusantara
Baca juga: Kronologi Jurnalis RI Ditangkap Israel, Dikabarkan Sempat Kirim SOS
Sementara itu, Global Sumud Nusantara merupakan delegasi dari Indonesia, Malaysia, dan negara-negara Nusantara lainnya dalam misi GSF ini.
Tujuan utama misi ini sendiri adalah:
• Mengirimkan bantuan kemanusiaan (obat-obatan, makanan, dan logistik) langsung ke Gaza.
• Menantang blokade laut Israel yang dianggap melanggar hukum internasional.
• Menarik perhatian global terhadap krisis kemanusiaan di Gaza.
Penangkapan oleh Israel
Melansir dari Al Jazeera, pasukan Israel telah mulai melakukan intersepsi terhadap beberapa kapal flotilla di perairan internasional dekat Siprus, termasuk kapal-kapal yang membawa aktivis di
Sumud Nusantara.
Asapun rombongan Indonesia yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) berlayar dengan beberapa kapal, antara lain:
• Kapal BoraLize — Ditumpangi Bambang Noroyono (Republika)
• Kapal Ozgurluk — Ditumpangi Thoudy Badai Rifan Billah (Republika), Andre Prasetyo Nugroho (Tempo), dan Rahendro Herubowo (relawan)
• Kapal Zapyro — Herman Budianto Sudarsono & Ronggo Wirasanu (Dompet Dhuafa)
• Kapal Josef — Andi Angga Prasadewa (Rumah Zakat)
• Kapal Kasr-1 — Asad Aras Muhammad (Spirit of Aqso) & Hendro Prasetyo (SMART 171)
Baca juga: Kontak Jurnalis RI Hilang Usai Kapal Disergap Israel, Cak Imin: Pemerintah Bergerak Bebaskan WNI
Armada ini berangkat dari Marmaris, Turki, dan sempat berkumpul sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gaza.
Adapun menurut laporan Command Center Global Sumud Nusantara yang memantau pergerakan dari Malaysia
pada Senin (18/5/2026), melaporkan bahwa kapal-kapal Global Sumud Flotilla memasuki perairan rawan dekat Siprus.
Militer Israel (IDF) kemudian melakukan intersepsi dengan mendekati kapal-kapal sipil.
Beberapa kapal, termasuk BoraLize dan Ozgurluk, sempat kehilangan kontak setelah jurnalis Indonesia mengirim SOS.
Tindakan Israel ini menuai kecaman internasional karena dilakukan di perairan internasional, jauh dari perairan Gaza.
Organisasi flotilla menyebutnya sebagai tindakan bajak laut (piracy) terhadap misi kemanusiaan damai.
(Tribunnews.com/Bobby)
Baca tanpa iklan