News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Hari ke-82 Perang Iran: Teheran Ancam Buka Front Baru, Trump Beri Tenggat 3 Hari

Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Endra Kurniawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • Perang Iran memasuki hari ke-82 dengan ancaman baru dari Teheran terhadap Amerika Serikat (AS), Rabu (20/5/2026).
  • Iran siap membuka “front baru” bila Washington kembali menyerang, sementara Donald Trump memberi tenggat dua hingga tiga hari untuk mencapai kesepakatan damai.
  • Ketegangan juga meluas ke Lebanon dan Gaza di tengah kekhawatiran krisis energi global.

 

TRIBUNNEWS.COM - Perang Iran memasuki hari ke-82 pada Rabu (20/5/2026).

Ketegangan baru muncul setelah Teheran memperingatkan akan membuka “front baru” jika Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan militer.

Peringatan itu muncul di tengah ultimatum Presiden AS, Donald Trump yang memberi Iran waktu “dua hingga tiga hari” untuk mencapai kesepakatan dengan Washington.

Dilansir Al Jazeera, militer Iran menyatakan pihaknya telah mempelajari berbagai pengalaman perang sebelumnya dan siap menggunakan “peralatan baru dan metode baru” bila konflik kembali meningkat.

Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia mengatakan Teheran akan memberikan respons lebih luas terhadap setiap serangan baru dari Amerika Serikat.

“Jika konflik berlanjut, kami akan membuka front baru,” demikian pernyataan militer Iran seperti dikutip kantor berita ISNA.

Iran Ancam Respons Lebih Luas

Di sisi lain, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan negosiasi dengan Iran menunjukkan “kemajuan yang baik”.

Namun Vance menegaskan Washington tetap siap melanjutkan operasi militer jika jalur diplomasi gagal menghasilkan kesepakatan.

Trump sendiri menyatakan perang dapat diakhiri “dengan sangat cepat” karena menurutnya Iran ingin segera mencapai kesepakatan baru.

Ancaman Trump muncul setelah Senat Amerika Serikat yang dikuasai Partai Republik melanjutkan pembahasan War Powers Resolution yang mewajibkan persetujuan Kongres untuk aksi militer lanjutan terhadap Iran.

Al Jazeera melaporkan pemerintahan Trump juga menghadapi tekanan politik domestik terkait potensi perang berkepanjangan dan dampaknya terhadap ekonomi Amerika Serikat.

Lebanon dan Gaza Kian Memanas

Sementara itu, situasi di Timur Tengah masih terus memanas.

Baca juga: AS Bakal Akhiri Perang Iran dengan Sangat Cepat, Trump: Mereka Tak akan Memiliki Senjata Nuklir

Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut serangan Israel di wilayah selatan Lebanon menewaskan sedikitnya 19 orang.

Korban termasuk perempuan dan anak-anak yang berada di Distrik Tyre.

Kelompok Hizbullah juga mengklaim telah melancarkan 26 serangan terhadap pasukan Israel di Lebanon selatan.

Di Gaza, serangan udara Israel menghantam sebuah rumah di kawasan Nassr, Kota Gaza, hingga memicu kebakaran besar.

Rekaman yang diverifikasi Al Jazeera menunjukkan tim pertahanan sipil berupaya memadamkan api di lokasi serangan.

Selain itu, Kementerian Kesehatan Lebanon mengecam penghancuran pusat layanan kesehatan primer di al-Maashouq.

Baca juga: Terkuak Dalang Serangan Drone Misterius ke PLTN Milik UEA, Benarkah Iran?

Pemerintah Lebanon menyebut jumlah fasilitas kesehatan yang terdampak serangan Israel kini mencapai 31 lokasi sejak perang meluas.

Xi Jinping dan Putin Bertemu

Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden China Xi Jinping juga menggelar pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing.

Pembicaraan kedua pemimpin disebut berfokus pada kerja sama energi, senjata, serta dampak perang Iran dan Ukraina terhadap stabilitas global.

Al Jazeera melaporkan perang Iran telah memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi dunia dan memperbesar risiko krisis ekonomi global.

Sementara itu, para menteri keuangan negara-negara G7 berjanji meningkatkan koordinasi untuk menghadapi risiko ekonomi akibat perang dan gangguan perdagangan internasional.

Warga AS Dibebaskan dari Penjara Iran

Baca juga: Trump Klaim Xi Jinping Janji China Tak Persenjatai Iran, tetapi Ancaman Serangan AS Masih Menguat

Di tengah proses negosiasi, Iran juga membebaskan Shahab Dalili, warga negara Iran yang memiliki status penduduk tetap Amerika Serikat.

Kelompok HAM HRANA menyebut Dalili telah dipenjara selama 10 tahun di Penjara Evin, Teheran.

Menurut laporan Al Jazeera, Dalili kini telah kembali ke Amerika Serikat setelah dibebaskan otoritas Iran.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini