TRIBUNNEWS.COM - Iran kembali membuka Bursa Efek Teheran setelah hampir tiga bulan ditutup akibat perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Pembukaan kembali pasar dilakukan secara terbatas dengan pengawasan ketat pemerintah di tengah tekanan ekonomi yang terus memburuk.
Dilansir Al Jazeera, perdagangan kembali dimulai setelah penutupan sekitar 80 hari, yang menjadi penghentian pasar saham terlama dalam sejarah Iran modern.
Di saat bersamaan, inflasi Iran dilaporkan telah melampaui 70 persen pada akhir April 2026.
Lonjakan harga terjadi di tengah sanksi internasional, blokade pelabuhan, dan kerusakan industri besar akibat perang.
Bursa Dibuka dengan Pembatasan Ketat
Pemerintah Iran menerapkan berbagai pembatasan untuk mencegah kepanikan investor dan tekanan jual besar-besaran.
Sebanyak 42 perusahaan besar yang mewakili sekitar 36 persen pasar saham masih ditangguhkan dari perdagangan.
Baca juga: AS Tutup Selat Hormuz, IHSG Dibuka Melemah, Bursa Saham Asia Loyo
Perusahaan yang belum dibuka kembali mayoritas berasal dari sektor baja, petrokimia, utilitas, dan infrastruktur strategis.
Wakil pengawas Organisasi Sekuritas dan Bursa Iran (SEO), Hamid Yari, mengatakan langkah itu diambil untuk menjaga stabilitas pasar.
“Tujuannya adalah mencegah tekanan jual tambahan dan mendukung pasar,” ujar Hamid Yari seperti dikutip media pemerintah Iran.
Times of Israel melaporkan sejumlah saham juga dibatasi hanya boleh bergerak naik atau turun maksimal tiga persen per hari.
Investor institusional dan sejumlah reksa dana leverage disebut turut dibatasi dalam melakukan transaksi besar.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya pemerintah menjaga indeks utama TEDPIX agar tidak anjlok setelah pasar dibuka kembali.
Inflasi dan Pelemahan Rial Tekan Ekonomi
Ekonom Mehdi Haghbaali mengatakan kondisi ekonomi Iran sebenarnya sudah rapuh bahkan sebelum perang pecah.
Baca tanpa iklan