News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Mojtaba Khamenei Pasang Badan! Uranium Iran Dilarang Keluar Negeri meski AS Mendesak

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Endra Kurniawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • Mojtaba Khamenei memerintahkan uranium diperkaya tetap berada di dalam negeri. Teheran menilai uranium merupakan aset strategis yang berkaitan dengan keamanan nasional.
  • Teheran juga takut uranium yang dipindahkan ke luar negeri akan disita permanen dan membuat Iran kehilangan alat pertahanan strategis di kawasan Timur Tengah.
  • Meski ketegangan memanas, AS dan Iran masih melanjutkan diplomasi terkait program nuklir. Washington mengklaim ada “tanda positif” dalam pembicaraan.

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran menolak keras wacana pemindahan uranium diperkaya ke luar negeri sebagai bagian dari kesepakatan damai dengan Amerika Serikat dan Israel.

Menurut sumber-sumber senior Iran, Pemimpin tertinggi Mojtaba Khamenei mengeluarkan arahan tegas agar seluruh lingkaran elite pemerintahan bahwa uranium yang telah diperkaya hingga mendekati level senjata nuklir tidak boleh dipindahkan ke negara lain dalam kondisi apapun.

“Arahan pemimpin tertinggi dan konsensus pemerintahan adalah bahwa persediaan uranium diperkaya tidak boleh meninggalkan negara ini,” ujar salah satu sumber yang berbicara secara anonim, sebagaimana dikutip dari The Times of Israel, Jumat (22/5/2026)

Langkah itu diambil di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan negosiasi rumit antara Teheran, Washington, dan Tel Aviv terkait program nuklir Iran.

Sumber internal pemerintah Iran menyebut para pejabat tinggi negara itu memiliki kecurigaan mendalam terhadap niat Amerika Serikat dan Israel.

Teheran meyakini bahwa jeda konflik dan pembicaraan damai yang sedang berlangsung bisa saja hanya menjadi strategi sementara untuk menciptakan rasa aman sebelum kemungkinan serangan baru dilancarkan.

Karena itu, Iran menilai pemindahan uranium ke luar negeri justru akan membuat negara tersebut kehilangan alat pertahanan strategis yang selama ini dianggap penting untuk menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan.

Selain faktor keamanan, uranium diperkaya juga dipandang sebagai aset politik dan diplomatik bernilai tinggi bagi Iran.

Cadangan uranium tersebut dinilai menjadi salah satu kartu tawar utama Teheran dalam negosiasi dengan negara-negara Barat, terutama terkait pencabutan sanksi ekonomi dan jaminan keamanan kawasan.

Pemerintah Iran juga khawatir bahwa apabila uranium dipindahkan keluar negeri, material tersebut berpotensi disita permanen dan tidak akan dikembalikan.

Kecurigaan itu muncul karena hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel selama bertahun-tahun dipenuhi ketegangan politik, sanksi ekonomi, hingga ancaman militer.

Bagi pemerintahan Teheran, mempertahankan uranium di dalam negeri bukan hanya soal teknologi nuklir, tetapi juga simbol kedaulatan dan penolakan terhadap tekanan Barat.

Perbedaan sikap antara Iran dan Amerika Serikat itu kini menjadi salah satu hambatan terbesar dalam upaya mencapai kesepakatan damai baru di kawasan Timur Tengah.

Baca juga: Iran Dibuat Was-was, Trump Rebut Uranium Tak Akan Biarkan Teheran Punya Senjata Nuklir

Iran Miliki Ratusan Kilogram Uranium Diperkaya

Menurut laporan terbaru Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran saat ini memiliki lebih dari 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat kemurnian 60 persen.

Tingkat pengayaan tersebut memang masih berada di bawah ambang senjata nuklir, namun dinilai sudah mendekati level yang dapat digunakan untuk memproduksi bom atom apabila diperkaya lebih lanjut hingga sekitar 90 persen.

Pejabat Israel sebelumnya menyebut jumlah uranium yang dimiliki Iran secara teoritis cukup untuk memproduksi hingga 11 senjata nuklir apabila proses pengayaan dilanjutkan.

Karena itu, isu uranium Iran kini menjadi salah satu persoalan paling sensitif dalam hubungan antara Teheran, Washington, dan Tel Aviv.

Amerika Serikat dan sekutunya khawatir Iran hanya tinggal selangkah lagi menuju kemampuan memproduksi bom nuklir.

Lebih lanjut Donald Trump menilai apabila Iran berhasil memiliki senjata nuklir, situasi dapat memicu perlombaan senjata baru di kawasan Timur Tengah.

Negara-negara seperti Israel, Arab Saudi, dan sekutu AS di kawasan Teluk dikhawatirkan akan meningkatkan kemampuan militernya sebagai respons.

Selain itu, ketegangan nuklir Iran juga berdampak langsung pada stabilitas pasar minyak dunia, jalur perdagangan internasional, dan keamanan kawasan Teluk Persia.

Karena itu, isu uranium Iran kini bukan hanya persoalan bilateral antara Teheran dan Washington, tetapi telah berkembang menjadi perhatian global yang melibatkan keamanan internasional dan keseimbangan geopolitik dunia.

Alasan ini yang membuat uranium Iran dipandang sebagai ancaman strategis yang dapat mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.

Trump mengatakan tujuan utama AS adalah memastikan Iran tidak memiliki akses terhadap material nuklir tersebut.

Menurutnya, jika uranium berhasil diambil alih, Washington kemungkinan akan menghancurkannya agar tidak lagi dapat digunakan Teheran.

“Kita mungkin akan menghancurkannya setelah mendapatkannya,” ujar Trump.

Baca juga: Israel Jadi Beban, AS Habiskan 300 Rudal demi Lindungi Tel Aviv dari Serangan Iran

Iran dan AS Masih Cari Jalan Damai

Di tengah meningkatnya ketegangan politik dan ancaman militer antara Iran dan Amerika Serikat, kedua negara dilaporkan masih membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

Pemerintah Amerika Serikat menyebut pembicaraan dengan Teheran menunjukkan perkembangan positif meskipun situasi hubungan kedua negara masih sangat rapuh.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan Washington tetap mengutamakan tercapainya kesepakatan damai dibanding eskalasi konflik baru di Timur Tengah.

Menurut Rubio, Presiden AS masih berharap negosiasi dapat menghasilkan solusi yang mampu meredakan ketegangan terkait program nuklir Iran dan keamanan kawasan.

“Presiden lebih memilih mencapai kesepakatan yang baik. Kami melakukan segala yang kami bisa untuk melihat apakah itu bisa tercapai,” ujar Rubio.

Ia juga mengungkapkan bahwa komunikasi antara kedua pihak menunjukkan “beberapa tanda yang baik”, meskipun belum ada jaminan bahwa perundingan akan berhasil sepenuhnya.

Di sisi lain, Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA) melaporkan bahwa proses negosiasi masih terus berlangsung di Teheran.

Menurut laporan ISNA, Washington disebut mulai mempersempit sebagian perbedaan pandangan dalam perundingan. Namun proses menuju kesepakatan final masih menghadapi hambatan besar karena Iran menilai ancaman militer dari Amerika Serikat belum benar-benar berhenti.

Pemerintah Teheran disebut tetap berhati-hati dan belum sepenuhnya percaya terhadap niat Washington, terutama setelah hubungan kedua negara selama bertahun-tahun dipenuhi sanksi ekonomi, tekanan politik, dan konflik keamanan.

Meski demikian, pengamat menilai proses diplomasi masih berada dalam tahap sensitif dan sewaktu-waktu dapat terganggu apabila ketegangan politik atau ancaman militer kembali meningkat.

Perkembangan negosiasi ini menjadi perhatian dunia internasional karena hasil pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat dinilai akan sangat memengaruhi stabilitas Timur Tengah, keamanan global, serta pasar energi dunia.

(Tribunnews.com/Namira)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini