TRIBUNNEWS.COM - Iran memutuskan menutup sebagian besar wilayah udaranya di tengah munculnya spekulasi mengenai kemungkinan serangan militer baru dari Amerika Serikat terhadap Teheran.
Otoritas penerbangan Iran mengonfirmasi bahwa pembatasan sementara penerbangan telah diberlakukan melalui pemberitahuan resmi penerbangan atau NOTAM.
Pembatasan tersebut mencakup sejumlah bandara di wilayah barat Iran dan diperkirakan berlangsung hingga awal pekan depan.
Dampak dari kebijakan itu langsung terlihat dari data pelacakan penerbangan internasional yang menunjukkan wilayah udara Iran mendadak hampir kosong dari lalu lintas pesawat komersial.
Banyak maskapai penerbangan internasional mulai menghindari jalur udara Iran demi alasan keamanan.
Data dari FlightAware memperlihatkan sejumlah penerbangan rute Eropa menuju Asia kini dialihkan melewati koridor selatan Teluk.
Perubahan rute tersebut membuat waktu perjalanan menjadi lebih panjang sekaligus meningkatkan biaya bahan bakar operasional maskapai.
Selain itu, perusahaan pemantau penerbangan internasional mencatat gangguan dan pengalihan rute di kawasan Timur Tengah meningkat hampir 35 persen dalam beberapa pekan terakhir seiring meningkatnya tensi geopolitik di kawasan.
Hingga kini pemerintah Iran belum menjelaskan secara rinci alasan utama penutupan wilayah udara tersebut.
Namun langkah itu terjadi di saat hubungan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat dilaporkan masih mengalami kebuntuan.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran internasional karena penutupan wilayah udara sering dianggap sebagai salah satu langkah antisipasi keamanan ketika risiko konflik militer meningkat.
AS Pertimbangkan Serangan Baru
Situasi ini semakin menjadi perhatian setelah analis penerbangan internasional menilai pola penutupan wilayah udara Iran memiliki kemiripan dengan kondisi menjelang serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada awal tahun 2026.
Saat menjelang operasi militer sebelumnya, wilayah udara Iran juga mengalami penurunan drastis aktivitas penerbangan sipil.
Baca juga: Donald Trump Absen dalam Pernikahan Putranya, Isu Iran Disebut Jadi Alasan Utama
Banyak maskapai internasional kala itu memilih menghindari jalur udara Iran karena meningkatnya risiko keamanan dan kekhawatiran akan kemungkinan serangan mendadak.
Kondisi serupa kembali terlihat dalam beberapa hari terakhir. Data pelacakan penerbangan menunjukkan langit Iran mendadak sepi dari lalu lintas pesawat komersial, sementara sejumlah maskapai mulai mengalihkan rute penerbangan mereka ke koridor selatan Teluk demi alasan keamanan.
Baca tanpa iklan