Ringkasan Berita:
- Intelijen AS melaporkan Mojtaba Khamenei bersembunyi di lokasi rahasia sehingga komunikasi internal Iran terhambat dan memperlambat proses perdamaian.
- Proposal perdamaian AS-Iran menghadapi kendala besar, termasuk pencairan aset Iran, kontrol Selat Hormuz, dan isu nuklir yang belum terselesaikan.
- Konflik regional semakin kompleks, ditandai serangan Rusia ke Ukraina, tuntutan Iran atas dana beku, serta peringatan Israel tentang risiko kekalahan di Lebanon.
TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah berita internasional menarik perhatian pembaca selama 24 jam terakhir.
Mulai dari misteri lokasi rahasia Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, hingga berbagai kendala yang membayangi proposal perdamaian antara Amerika Serikat dengan Iran.
Berikut kompilasi berita populer internasional selengkapnya.
1. Intel AS: Pemimpin Tertinggi Iran Bersembunyi di Lokasi yang Dirahasiakan
Intelijen AS mengungkapkan bahwa pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, pada dasarnya bersembunyi di lokasi rahasia dengan akses terbatas ke dunia luar.
Ia disebut hanya dapat dihubungi melalui jaringan pembawa pesan yang rumit, menurut para pejabat AS yang mengetahui persoalan tersebut.
Mengutip CBS News, para pejabat Iran yang berwenang bekerja sama dengan pemerintahan AS mengalami kesulitan berkomunikasi di dalam sistem pemerintahan mereka sendiri.
Hal ini menjadi salah satu alasan utama mengapa rincian kesepakatan potensial dengan Iran dan perjanjian sebelumnya lambat terungkap.
Ketika AS mengirimkan rincian usulan, pihak Iran kesulitan menghubungi pemimpin tertingginya, kata pejabat tersebut.
Seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan pada hari Minggu (24/5/2026) bahwa pemimpin tertinggi Iran telah menyetujui garis besar draf perjanjian saat ini.
Presiden AS Donald Trump mengunggah di Truth Social bahwa ia memperkirakan keputusan akhir akan diambil dalam beberapa hari ke depan.
Mojtaba Khamenei belum terlihat atau terdengar secara resmi di depan umum sejak sebelum dimulainya perang.
Intelijen AS dan Israel yang diperoleh dari dalam pemerintahan Iran memungkinkan mereka menemukan dan melenyapkan sebagian besar kepemimpinan senior Iran selama perang, kata salah satu pejabat tersebut.
Saat ini, sebagian besar pemimpin Iran tidak pernah keluar dari bunker yang sangat terlindungi selama berminggu-minggu dan menghindari berbicara satu sama lain kecuali benar-benar diperlukan, kata sumber tersebut.
“Melihat mereka mencoba mencari cara untuk berbicara satu sama lain hampir seperti menonton sitkom. Mereka benar-benar frustrasi,” kata seorang pejabat.
Langkah pengamanan paling ketat diterapkan kepada pemimpin tertinggi.
Bahkan pejabat di tingkat tertinggi pemerintahan Iran disebut tidak mengetahui lokasi keberadaannya dan tidak memiliki cara untuk menghubunginya secara langsung.
“Inilah mengapa Anda melihat orang-orang mengatakan hal-hal seperti, ‘Pemimpin tertinggi telah menyetujui kerangka kerja,’ atau ‘Kami menunggu kabar tentang poin-poin kesepakatan akhir.’ Setiap informasi yang dia terima sudah usang dan ada banyak jeda waktu dalam tanggapannya,” kata seorang pejabat.
2. Kyiv Dihujani 600 Drone dan Rudal Oreshnik, UE Tuduh Rusia Bermain-main dengan Senjata Nuklir
Rusia melancarkan salah satu pengeboman terbesar terhadap ibu kota Ukraina sejak awal invasinya lebih dari empat tahun lalu, menewaskan setidaknya empat orang dan merusak sekolah serta gedung-gedung permukiman dalam semalam pada Sabtu.
Mengutip TIME, serangan berjam-jam itu mencakup peluncuran rudal balistik canggih Oreshnik — yang mampu membawa hulu ledak nuklir — ke Bila Tserkva, kota berpenduduk 200.000 jiwa yang terletak sekitar 80 kilometer di selatan Kyiv.
Menurut Angkatan Udara Ukraina, serangan tersebut melibatkan 600 drone tempur dan 90 rudal yang diluncurkan dari udara, laut, dan darat, sebagian di antaranya berhasil dihancurkan oleh sistem pertahanan udara Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan di Telegram bahwa beberapa sekolah dan gedung permukiman terkena serangan, dan tiga rudal diluncurkan ke arah fasilitas air bersih.
Layanan darurat mencatat 50 lokasi di beberapa distrik ibu kota mengalami kerusakan.
"Mereka melancarkan perang semata-mata terhadap rakyat kami — terhadap ingatan kami, sejarah kami, dan segala sesuatu yang membentuk kehidupan manusia yang normal," tulis Zelensky di X pada Minggu.
"Penting bagi Rusia untuk memahami bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas semua kejahatan ini."
Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko menyatakan di Telegram pada Minggu bahwa petugas penyelamat sedang membantu warga dan membersihkan puing-puing.
"Ini adalah malam yang mengerikan bagi Kyiv…" katanya dari lokasi serangan. Klitschko membenarkan bahwa dua orang tewas di kota tersebut, sementara pejabat di wilayah sekitarnya mengonfirmasi dua kematian lagi.
UE Tuduh Rusia Bermain-main dengan Senjata Nuklir
Kaja Kallas, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, menyebut penggunaan rudal Oreshnik sebagai "taktik menakut-nakuti secara politik dan permainan nuklir yang sembrono."
3. Poin-Poin yang Mungkin Termasuk atau Tidak Termasuk dalam Proposal Perdamaian Iran-AS
Proses perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat masih terus berlangsung.
Namun, masih banyak kebingungan dan pertanyaan yang belum terjawab.
Mengutip Al Jazeera, Presiden AS Donald Trump menyebut, ia menginstruksikan timnya untuk tidak perlu terburu-buru dalam mencapai kesepakatan dengan Iran.
Trump juga mengatakan pada Sabtu (23/5/2026) bahwa sebuah kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan dan kini tinggal menunggu finalisasi antara AS, Iran, dan berbagai negara lain.
Para pejabat Iran mengonfirmasi bahwa negosiasi sedang berlangsung dan beberapa kemajuan telah dicapai.
Namun, sebuah sumber Iran mengatakan kepada Ali Hashem dari Al Jazeera bahwa ada tanda-tanda kemunduran AS pada dua isu utama, yakni mekanisme pencairan aset Iran dan cakupan gencatan senjata di Lebanon.
Selat Hormuz dan program nuklir Iran juga tampaknya masih menjadi poin yang diperdebatkan.
Poin-Poin Penting
Lalu, apa saja yang mungkin termasuk dalam usulan kesepakatan gencatan senjata Iran?
Menurut seorang pejabat AS kepada Axios, kesepakatan antara Iran dan AS akan mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, di mana Selat Hormuz akan dibuka kembali.
Di samping itu, Iran dapat menjual minyak secara bebas, dan pembicaraan mengenai pembatasan program nuklir Iran akan digelar.
Iran juga akan setuju untuk membersihkan ranjau yang telah dipasang di selat tersebut serta tidak mengenakan bea masuk pada kapal.
Sebagai imbalannya, AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran yang telah berlaku sejak 13 April.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan pada Minggu (24/5/2026) bahwa kesepakatan itu dapat mewujudkan Selat Hormuz yang sepenuhnya terbuka tanpa pungutan tol jika berhasil.
Namun, media Iran melaporkan bahwa Selat Hormuz akan tetap berada di bawah kendali Iran.
Selain itu, pertempuran juga akan dihentikan di semua lini, termasuk Israel dan Lebanon.
4. Iran Pasang Syarat Baru: Minta Dana Rp 196 Triliun Dicairkan Sebelum Lanjut Damai dengan AS
Iran dilaporkan menuntut pencairan segera dana beku senilai USD12 miliar atau sekitar Rp196 triliun yang tersimpan di Qatar sebelum melanjutkan proses negosiasi perdamaian dengan Amerika Serikat.
Laporan Iran International menyebut dana tersebut menjadi syarat awal Teheran untuk membuka tahapan diplomasi lanjutan dengan Washington.
Sumber yang mengetahui proses negosiasi mengatakan jumlah itu hanyalah tahap awal dari total aset Iran yang dibekukan di berbagai negara.
Selama ini Iran menuntut seluruh asetnya di luar negeri dibuka dan dapat diakses penuh sebagai bagian dari kesepakatan komprehensif dengan AS.
Media Iran yang dekat dengan Garda Revolusi, Tasnim News Agency, melaporkan masih ada perbedaan antara kedua negara terkait beberapa klausul dalam rancangan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU).
Iran disebut meminta agar pencairan sebagian dana beku dimasukkan dalam kesepakatan awal sebelum pembicaraan lebih jauh mengenai perdamaian dan isu nuklir dilakukan.
Di sisi lain, Washington dikabarkan ingin mengaitkan pencairan dana tersebut dengan kesepakatan nuklir final.
Namun Teheran menolak dan meminta sebagian dana dicairkan lebih dulu sebagai bentuk komitmen awal dari AS.
Dana yang dipermasalahkan berasal dari hasil penjualan minyak Iran ke Korea Selatan.
Dana itu sebelumnya dipindahkan ke rekening di Qatar, tetapi penggunaannya dibatasi hanya untuk kebutuhan kemanusiaan di bawah pengawasan Amerika Serikat.
Draft Negosiasi Damai
Negosiasi tahap akhir mengenai kesepakatan damai baru akan dimulai setelah kedua pihak menandatangani MoU dan menyepakati gencatan senjata selama 60 hari.
Salah satu poin penting dalam pembahasan adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur laut vital yang menjadi rute utama distribusi minyak dunia.
5. Eks-Pejabat Tinggi Israel: IDF Potensial Ulangi Kekalahan Memalukan di Lebanon pada Tahun 2000
Mantan kepala Komite Urusan Luar Negeri dan Keamanan Israel, Ofer Shelah, memperingatkan bahwa keberadaan militer Israel di Lebanon selatan berisiko berakhir seperti penarikan memalukan Israel pada tahun 2000.
Dalam pernyataannya yang dikutip media Israel, Maariv, Shelah menyebut strategi mempertahankan “sabuk keamanan” di wilayah Lebanon sebagai “resep bencana”.
Menurutnya, tentara Israel (IDF) saat ini berada dalam situasi tempur yang sangat bermasalah karena terus menghadapi ancaman tanpa mencapai tujuan strategis yang jelas.
“Pada akhirnya, kita akan angkat kaki dari sana dengan ekor di antara kaki, persis seperti yang terjadi pada tahun 2000,” ujar Shelah.
Komentar itu muncul bertepatan dengan peringatan Hari Perlawanan dan Pembebasan Lebanon pada 25 Mei, yang menandai mundurnya pasukan Israel dari Lebanon selatan setelah lebih dari dua dekade pendudukan.
Shelah menilai kondisi saat ini bahkan lebih rumit dibanding masa “zona keamanan” Israel di Lebanon sebelum runtuh pada 2000.
Ia mengatakan operasi militer yang berlangsung sekarang hanya akan menambah korban di pihak Israel tanpa hasil nyata.
Security Belt Ala Israel
Strategi security belt atau “sabuk keamanan” sendiri merujuk pada upaya Israel mempertahankan area militer penyangga di wilayah Lebanon selatan untuk menghadang serangan kelompok perlawanan Lebanon.
Namun, menurut Shelah, pendekatan tersebut justru berpotensi menyeret Israel ke konflik berkepanjangan seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Zona keamanan Israel di Lebanon dibentuk setelah invasi tahun 1982 dan dipertahankan melalui dukungan terhadap milisi Tentara Lebanon Selatan.
Sistem itu runtuh bersamaan dengan penarikan Israel pada Mei 2000 setelah tekanan panjang dari kelompok perlawanan Lebanon.
Selain menyoroti Lebanon, Shelah juga mengomentari konfrontasi Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.
Ia mengatakan tidak ada cara menghentikan program nuklir Iran tanpa keputusan politik dari Iran sendiri.
(Tribunnews.com)
Baca tanpa iklan