Kebijakan ini disebut sebagai bagian dari respons terhadap meningkatnya serangan udara Ukraina di dalam wilayah Rusia.
Bank besar seperti Sberbank dan institusi keuangan lainnya kini dapat membekali staf mereka dengan sistem keamanan tanpa keterlibatan pasukan khusus.
Biaya pengadaan sistem tersebut akan ditanggung masing-masing institusi.
Pejabat Komite Keuangan Duma Negara, Anatoly Aksakov, menyebut kebijakan ini sebagai langkah darurat yang dibutuhkan.
Sementara itu, pelaku usaha di Rusia juga dilaporkan siap membeli sistem pertahanan tambahan untuk melindungi aset mereka.
Hampir 50 Negara PBB Kecam Ancaman Rusia ke Kyiv
Baca juga: Ukraina Balas Rusia Sehari Usai Rudal Oreshnik Hantam Kyiv: Korban Berjatuhan di Belgorod-Donetsk
Hampir 50 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam ancaman Rusia terhadap Kyiv dan lembaga diplomatik di ibu kota Ukraina.
Negara-negara tersebut menilai ancaman itu tidak dapat diterima karena menyasar fasilitas diplomatik yang seharusnya dilindungi berdasarkan hukum internasional.
Uni Eropa juga menegaskan tidak akan mengevakuasi stafnya dari Kyiv meski situasi keamanan memburuk.
Jerman dan Norwegia turut memanggil duta besar Rusia sebagai bentuk protes resmi.
Ketegangan diplomatik pun meningkat seiring eskalasi perang Rusia–Ukraina yang kembali memanas di berbagai lini.
Rusia Umumkan Kampanye Serangan Sistematis ke Kyiv
Rusia mengumumkan dimulainya kampanye serangan “sistematis” terhadap ibu kota Ukraina, Kyiv.
Serangan ini disebut akan menargetkan pusat-pusat pengambilan keputusan di kota tersebut.
Moskow juga meminta warga negara asing dan para diplomat untuk segera meninggalkan Kyiv demi alasan keamanan.
Selain itu, penduduk sipil diminta menghindari gedung-gedung publik yang berpotensi menjadi target serangan.
Baca juga: Sinyal Dukungan Menurun, 5 Anggota NATO Blokir Pendanaan Wajib untuk Ukraina
Pemerintah Ukraina menanggapi peringatan tersebut dengan menyebutnya sebagai bentuk tekanan dan “pemerasan” politik.
Kyiv juga mendorong sekutunya untuk tidak menanggapi ancaman tersebut secara berlebihan.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan