TRIBUNNEWS.COM - Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) membantah kabar bahwa Washington mengevakuasi staf di kedutaannya di Kyiv, Ukraina, untuk menanggapi ancaman Rusia akan serangan besar di ibu kota tersebut.
Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Georgy Tykhyi telah menyampaikan hal ini kepada wartawan.
"Kedutaan Besar AS beroperasi seperti biasa. Tidak ada perubahan dalam operasional kami, dan laporan apa pun yang menyatakan sebaliknya adalah salah. Tidak ada yang lebih penting bagi Departemen Luar Negeri selain keselamatan dan keamanan warga negara AS, dan departemen tersebut secara teratur meninjau situasi keamanan di kedutaan besar di Kyiv," kata para diplomat AS dalam sebuah pernyataan, Kamis (28/5/2026).
Kedutaan besar tersebut juga menekankan, karena konflik bersenjata, warga negara AS tidak boleh mengunjungi Ukraina dengan alasan apa pun.
"Kami menegaskan kembali pesan kami bahwa warga Amerika tidak boleh bepergian ke Ukraina dengan alasan apa pun karena konflik bersenjata," bunyi pernyataan tersebut.
Pernyataan tersebut dibuat setelah Perwakilan Tinggi Uni Eropa Kaia Kallas menyatakan bahwa kedutaan besar AS dievakuasi dari Ukraina di tengah ancaman dari Federasi Rusia.
"Kemarin, informasi datang dari Ukraina bahwa semua kedutaan tetap berada di tempatnya, kecuali satu. Jadi ini juga membutuhkan keberanian dari kedutaan-kedutaan tersebut. Tapi ya, semua orang Eropa tetap tinggal. Amerika sudah pergi," kata Kallas sebelum pertemuan informal para menteri luar negeri Uni Eropa di Siprus.
Setelah AS membantah kabar tersebut, situs web layanan diplomatik Uni Eropa mengedit transkrip jawaban Kallas atas pertanyaan para jurnalis.
"Juga, seperti yang kita dengar dari Ukraina kemarin, semua kedutaan tetap berada di sana, yang juga membutuhkan keberanian dari kedutaan-kedutaan tersebut, tetapi ya, semua orang Eropa tetap berada di sana," demikian bunyi cuplikan tersebut, yang oleh Uni Eropa ditandai sebagai "dikoreksi terkait kehadiran diplomatik di Kyiv".
Sebelumnya, kantor berita Suspilne telah meminta komentar dari Kedutaan Besar AS di Ukraina, Delegasi Uni Eropa untuk Ukraina, serta Departemen Luar Negeri AS dan pihak berwenang Ukraina.
Baca juga: Putin Siapkan Kebijakan Tak Lazim Lawan Drone Ukraina: Karyawan Bank Rusia Kini Bisa Tembak Langsung
Rusia Mengancam akan Serang Kota Kyiv, Minta Warga Asing Pergi
Pada Senin (25/5/2026), Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa pasukan mereka telah memulai apa yang disebut sebagai “serangan sistematis dan berkelanjutan” terhadap fasilitas industri pertahanan Ukraina serta sejumlah “pusat pengambilan keputusan” di Kyiv.
Moskow juga mengeluarkan imbauan agar warga negara asing, termasuk staf diplomatik dan pekerja organisasi internasional, segera meninggalkan ibu kota Ukraina.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menilai bahwa ancaman Rusia itu bertujuan untuk menekan dan mengintimidasi para diplomat Barat.
Namun ia menegaskan bahwa Ukraina tidak akan tunduk pada bentuk tekanan semacam itu.
Sementara itu, Duta Besar Uni Eropa untuk Ukraina, Katarína Mathernová, menyampaikan bahwa para diplomat Barat tetap akan bertahan di Kyiv meskipun adanya ancaman baru dari pihak Rusia.
Baca tanpa iklan