News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Trump Ingin Bertemu Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, Begini Respons Teheran

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

DONALD TRUMP - Presiden AS Donald Trump isyaratkan siap bertemu Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei bila tercapai kesepakatan.

Ringkasan Berita:

  • Donald Trump membuka peluang bertemu Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei jika negosiasi menghasilkan kesepakatan. 
  • Ia menegaskan syarat utama adalah penghentian ambisi nuklir Iran. 
  • Pernyataan muncul di tengah gencatan senjata rapuh, dengan konflik Iran-AS masih membayangi kawasan

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka kemungkinan untuk bertemu dengan Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, apabila proses negosiasi antara Washington dan Teheran menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan kedua pihak.

Pernyataan itu disampaikan Trump saat berbicara di Gedung Putih pada Kamis (5/6/2026) waktu setempat. Menurutnya, pertemuan dengan pemimpin baru Iran bukanlah hal yang mustahil apabila pembicaraan diplomatik yang sedang berlangsung berhasil mencapai titik temu.

"Saya tidak ingin bertemu, tetapi jika saya bertemu, saya akan merasa terhormat untuk bertemu dengannya," kata Trump saat ditanya mengenai kemungkinan duduk satu meja dengan Mojtaba Khamenei.

"Saya ingin melihat apakah kami bisa mencapai kesepakatan. Jika kesepakatan itu tercapai, maka ada kemungkinan saya akan bertemu dengannya," lanjut Trump.

Mojtaba Khamenei diketahui menjadi Pemimpin Tertinggi Iran setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada awal konflik yang pecah pada akhir Februari 2026.

Senjata Nuklir Jadi Syarat Utama

Trump kembali menegaskan bahwa syarat utama dalam setiap kesepakatan dengan Iran adalah penghentian ambisi pengembangan senjata nuklir Teheran.

"Bagian utama dari kesepakatan itu adalah mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir," tegas Trump.

Ia juga mengingatkan bahwa Amerika Serikat tidak akan ragu mengambil tindakan militer apabila pasukan AS menjadi korban serangan Iran di kawasan Timur Tengah.

"Jika mereka membunuh tentara Amerika Serikat, saya pikir saya akan melakukannya dengan sangat cepat," ujarnya.

Trump juga optimistis Selat Hormuz akan kembali beroperasi normal dalam waktu dekat. Menurutnya, Amerika Serikat telah melakukan operasi besar-besaran untuk membersihkan ranjau laut dan memiliki teknologi penyapu ranjau bawah laut yang canggih.

Baca juga: Trump Sesumbar, AS Bisa Ambil Uranium Iran Tanpa Perjanjian

Konflik Iran-AS Masih Membayangi

Pernyataan Trump muncul di tengah upaya diplomatik yang masih berlangsung antara Washington dan Teheran setelah gencatan senjata rapuh diberlakukan pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan.

Perang antara kedua negara dimulai pada 28 Februari 2026 setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran. Pemerintah Iran mengklaim lebih dari 3.000 orang tewas selama konflik berlangsung, sementara sedikitnya 13 personel militer Amerika Serikat dilaporkan gugur akibat serangan balasan Iran.

Selama konflik berlangsung, Iran melancarkan serangan terhadap Israel dan sejumlah sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk serta menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Meski pembicaraan damai sebelumnya di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan komprehensif, komunikasi diplomatik antara kedua negara masih terus berlangsung dan memunculkan harapan adanya perjanjian yang lebih luas.

Trump Isyaratkan Fokus Baru ke Kuba

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyinggung Kuba sebagai salah satu agenda berikutnya bagi pemerintahannya setelah urusan dengan Iran selesai.

"Itu sempat runtuh dan kami akan menanganinya segera setelah kami selesai," kata Trump saat ditanya mengenai situasi di Kuba.

"Kami akan menangani Republik Islam Iran. Dan setelah itu selesai, dalam perjalanan kembali, kami akan singgah sebentar," tambahnya.

Pernyataan tersebut muncul tak lama setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel serta sejumlah orang yang berada di lingkaran dalam kekuasaan Havana.

Beberapa nama yang masuk daftar sanksi antara lain istri Diaz-Canel, Lis Cuesta Peraza, putranya Manuel Anido Cuesta, serta Alejandro Castro Espin yang merupakan putra mantan pemimpin Kuba Raul Castro.

Selain individu, sejumlah lembaga pemerintah dan perusahaan milik negara Kuba juga turut dikenai sanksi baru oleh Washington.

Trump membantah bahwa sanksi tersebut bertujuan mempercepat kemunduran Kuba. Menurutnya, Amerika Serikat hanya ingin melihat Kuba menjadi negara yang mampu mengelola pemerintahan dan memenuhi kebutuhan rakyatnya.

"Kami hanya ingin mereka menjadi negara yang dikelola dengan baik dan mampu memberi makan rakyatnya. Lihat saja, itu adalah negara yang gagal," kata Trump.

Hubungan Amerika Serikat dan Kuba sendiri telah berlangsung penuh ketegangan selama beberapa dekade, ditandai embargo ekonomi serta berbagai gelombang sanksi yang kerap diberlakukan Washington dengan alasan hak asasi manusia dan tata kelola pemerintahan.

Respons Iran 

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan kesediaannya untuk bertemu dengan Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, apabila negosiasi antara Washington dan Teheran membuahkan kesepakatan.

Araghchi meminta publik melihat kemungkinan tersebut secara realistis dan sesuai kondisi yang terjadi di lapangan. Ia juga menegaskan bahwa Mojtaba Khamenei saat ini memegang kendali penuh atas jalannya pemerintahan Republik Islam Iran.

Dalam keterangannya kepada media Iran, Araghchi menjelaskan bahwa alasan Mojtaba Khamenei belum banyak tampil di ruang publik berkaitan dengan faktor keamanan.

Menurutnya, lembaga keamanan Iran telah menyarankan agar pemimpin tertinggi baru tersebut membatasi kemunculan publik demi menghindari potensi ancaman terhadap keselamatannya.

Meski demikian, Araghchi memastikan komunikasi antara pemerintah dan Mojtaba Khamenei berjalan intensif serta arahan-arahannya terus menjadi dasar pengambilan kebijakan negara.

“Mojtaba Khamenei kini adalah pemimpin Republik Islam Iran dan memiliki peran yang sangat dekat serta berpengaruh dalam perkembangan negara,” kata Araghchi.

“Ia memiliki kendali penuh atas berbagai urusan,” lanjutnya.

Loyalitas kepada Pemimpin Baru

Araghchi juga menekankan bahwa transisi kepemimpinan tidak mengurangi dukungan elite politik maupun masyarakat terhadap institusi kepemimpinan Iran.

Menurutnya, loyalitas yang sebelumnya diberikan kepada mendiang Ayatollah Ali Khamenei kini sepenuhnya dialihkan kepada Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru revolusi Iran.

“Tingkat kepatuhan dan loyalitas yang sebelumnya diberikan kepada pemimpin yang gugur kini juga diberikan secara penuh kepada pemimpin baru revolusi,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa struktur kekuasaan di Iran tetap solid pasca pergantian kepemimpinan yang terjadi di tengah konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat dan Israel.

(Calibetr/Turkiye Today/Tribunnews)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini