TRIBUNNEWS.COM, BEIJING - Presiden China Tiongkok Xi Jinping akan melakukan perjalanan ke Korea Utara pekan depan, demikian diumumkan kedua negara pada hari Jumat (5/6/2026) seperti dikutip dari Associated Press.
Ini akan menjadi kunjungan pertama Xi ke Korea Utara dalam hampir tujuh tahun terakhir.
Kunjungan itu juga akan menjadi langkah terbaru dalam serangkaian upaya China untuk memperkuat hubungan dekat dengan negara tetangganya yang memiliki senjata nuklir itu.
Kim Jong Un pemimpin Korea Utara kembali menjalin hubungan dekat dengan China, mitra dagang terbesar Korea Utara, dalam setahun terakhir.
“Seiring Korea Utara membangun hubungan yang lebih dekat dengan Rusia, China berupaya menggunakan kunjungan Xi untuk menegaskan kembali pengaruhnya atas Pyongyang dan melindungi kepentingan strategisnya di Asia Timur Laut,” kata William Yang, seorang analis dari International Crisis Group.
Xi akan melakukan kunjungan kenegaraan dari hari Senin hingga Selasa, demikian dilaporkan media pemerintah dari kedua negara dalam siaran singkat.
Kunjungan terakhir Xi Jinping ke Korea Utara adalah pada Juni 2019.
Kunjungan Xi ke Korea Utara dilakukan hanya beberapa minggu setelah Xi menjamu Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin secara berturut-turut di Beijing.
Program senjata nuklir Korea Utara telah lama menjadi perhatian utama bagi Amerika Serikat.
PBB telah memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Korea Utara karena pengembangan nuklir dan rudalnya.
Selama kunjungan ke pabrik tersebut, Kim mengumumkan rencana untuk memperkuat kekuatan nuklir negara itu "dengan laju eksponensial."
Para ahli mengatakan pengungkapan pabrik tersebut menyiratkan bahwa Kim sangat ingin memperkuat status negaranya sebagai negara pemilik senjata nuklir menjelang kunjungan Xi.
Xi, yang banyak melakukan perjalanan di tahun-tahun pertamanya berkuasa, telah mengurangi perjalanan internasionalnya secara drastis sejak pandemi COVID-19.
Perjalanan luar negeri terakhirnya adalah ke Korea Selatan pada musim gugur lalu untuk KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik, di mana ia berbicara dengan Trump.
Baca tanpa iklan