TRIBUNNEWS.COM - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membantah klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada hari Kamis bahwa Teheran telah menyetujui kesepakatan perdamaian pendahuluan.
Esmail Baghaei menyampaikan hal tersebut setelah Trump mengatakan kesepakatan dengan Iran dapat ditandatangani paling cepat pada akhir pekan ini, kemungkinan dilaksanakan di Eropa.
Trump juga mengklaim Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah menyetujui persyaratannya.
"Saya mengerti jawabannya adalah ya," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval mengenai sikap pemimpin Iran terhadap kesepakatan itu, yang ia gambarkan sebagai "nota kesepahaman yang sangat kuat."
Trump juga mengatakan bahwa ancaman operasi militer AS terhadap Pulau Kharg di Iran untuk saat ini dibatalkan.
Gedung Putih melalui pernyataan resmi pada hari Kamis mengatakan Trump membatalkan serangan terjadwal terhadap Iran setelah aksi saling serang selama dua hari terakhir.
Esmail Baghaei menggambarkan berita tentang "nota kesepahaman" sebagai "spekulasi" dan mengatakan pihak berwenang terkait harus meninjau setiap detail teks tersebut.
Ia mengakui sebagian besar teks telah diselesaikan, tetapi menambahkan bahwa pihak Amerika terus mengubah pendirian mereka.
“Teks tersebut hampir rampung di bagian-bagian utamanya. Masalahnya adalah posisi Amerika Serikat yang saling bertentangan selalu menyebabkan gejolak dan gangguan dalam proses ini,” kata Baghaei, Jumat (12/6/2026).
Ia juga menekankan Iran tidak akan berkompromi pada “garis merahnya", seperti diberitakan IRNA.
Teheran belum secara resmi menanggapi kesepakatan yang disebut Trump. Media Iran melaporkan bahwa Iran belum menyetujui nota kesepahaman apa pun dari AS.
Baca juga: AS dan Iran Disebut Siap Teken Perjanjian Islamabad, Pesawat Militer AS Bergerak ke Eropa
Laporan Axios: Iran Setujui Persyaratan AS
Pada hari Jumat, sumber diplomatik mengatakan nota kesepahaman (MOU) yang dibahas oleh para negosiator menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran secara segera tanpa pungutan apa pun.
Selain itu, AS akan melonggarkan beberapa sanksi berdasarkan kepatuhan Iran, menurut laporan Axios.
Washington juga akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran selama 30 hari, yang akan memungkinkan pengiriman melalui Selat Hormuz, yang menyumbang sekitar 20 persen dari perdagangan minyak mentah global.
Axios melaporkan masih belum jelas apakah draf MOU tersebut membahas masalah aset Iran yang dibekukan oleh Barat.
Baca tanpa iklan