TRIBUNNEWS.COM - Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran disambut sebagai titik balik dalam konflik yang selama beberapa bulan terakhir mengguncang pasar energi dunia.
Namun, di balik optimisme tersebut, tantangan besar masih menanti di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global.
Ribuan kapal dilaporkan masih tertahan di dalam dan sekitar kawasan Teluk setelah berbulan-bulan gangguan pelayaran akibat konflik dan pembatasan lalu lintas laut di perairan strategis tersebut.
Meski Washington dan Teheran telah mengonfirmasi tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan, para pelaku industri memperingatkan bahwa pemulihan arus perdagangan energi tidak akan berlangsung secepat yang diharapkan pasar.
Direktur Pelaksana Asosiasi Asuransi Risiko Perang Bersama Pemilik Kapal Norwegia, Svein Ringbakken, mengatakan kemacetan kapal yang terjadi selama berbulan-bulan telah menciptakan persoalan logistik yang kompleks.
Menurutnya, bahkan jika Selat Hormuz dibuka sepenuhnya, dunia masih harus menghadapi penumpukan kapal, kerusakan fasilitas pelabuhan, serta kemungkinan keberadaan ranjau laut yang dapat menghambat proses normalisasi.
"Bahkan dengan kapasitas penuh, ini akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali normal," ujarnya.
Ringbakken menambahkan sejumlah fasilitas produksi dan pelabuhan juga mengalami gangguan selama konflik berlangsung. Kondisi tersebut berpotensi memperlambat pemulihan rantai pasok energi global.
Baca juga: Kesepakatan Damai Diteken: AS Cabut Blokade Selat Hormuz, Iran Setujui Jalur Strategis Bebas Biaya
Pasar Global Langsung Merespons
Terlepas dari berbagai tantangan tersebut, pasar keuangan dunia menyambut positif pengumuman kesepakatan damai.
Pada perdagangan Senin (15/6/2026), indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 5,5 persen, sementara Kospi Korea Selatan menguat hingga 5,7 persen.
Indeks Taiex Taiwan naik 2,7 persen dan ASX200 Australia menguat sekitar 1,5 persen. Di Hong Kong, indeks Hang Seng juga sempat bergerak naik sebelum memangkas sebagian penguatannya.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent turun sekitar 4,5 persen ke bawah 83,40 dolar AS per barel seiring munculnya harapan bahwa pasokan energi global akan kembali mengalir lebih lancar.
Kepala Riset Asia ANZ, Khoon Goh, menilai konfirmasi resmi kesepakatan dari kedua negara menjadi faktor utama yang mendorong reli pasar.
Menurutnya, penurunan harga minyak juga dapat mengurangi tekanan inflasi yang selama ini menjadi perhatian bank sentral di berbagai negara.
Trump Umumkan Pembukaan Kembali Hormuz
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengumumkan kesepakatan tersebut melalui media sosial pada Minggu (14/6/2026).
Baca tanpa iklan