News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Terapi di Rel Kereta Api

Terapi Rel Kereta Api Bahayakan Jantung

Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sejumlah masyarakat di sekitar rel kereta api melakukan aksi tidur di rel lintasan kereta api yang beraliran listrik ringan, di jalur lintasan dekat stasiun tersebut, Rabu (20/7/2011) warga setempat menganggapnya therapi untuk penyebuhan (TRIBUNNEWS.COM/Adi Suhendi)

TRIBUNNEWS.COM - Warga berbondong-bondong melakukan terapi pijat di atas rel kereta api bertegangan cukup tinggi di kawasan Rawa Buaya Jakarta Barat. Menanggapi fenomena banyaknya warga yang melakukan terapi ini, Prof Dr Yahya Kisyanto, PhD, Ketua Perhimpunan Kedokteran Komplementer dan Alternatif Indonesia mengaku prihatin.  

Ia mengimbau masyarakat untuk menghentikannya karena pengobatan ini tak memiliki dasar ilmiah yang jelas.

"Kita mesti tahu dulu siapa orang yang memulai ini, dasarnya apa, maksudnya apa, patofisiologinya bagaimana, dan apa referensinya. Kita enggak bisa menerima begitu saja," ujarnya.

Menurut Kisyanto, tindakan coba-coba yang dilakukan warga sekitar stasiun kereta Rawa Buaya akan berisiko terutama bagi mereka yang mengidap penyakit jantung. Pasalnya, terapi listrik yang saat ini digunakan sebagai pengobatan nantinya bisa mengganggu ritme jantung.

"Jadi enggak bisa sembarangan main listrik. Memang ada di ICU kita gunakan namanya kejut jantung, tetapi itu karena kita sudah tahu apa sebabnya, kemudian apa yang mau kita kerjakan. Jadi jangan sembarangan," katanya.

Dia menjelaskan, pada dasarnya pengobatan komplementer hanya sebagai penambah dari pengobatan konvensional, tetapi bukan berarti pengobatan komplementer berbeda sama sekali dengan konvensional.

Terkait kasus ini, Kisyanto kembali menegaskan, yang terpenting adalah harus ditelusuri dahulu siapa orang yang pertama kali menganjurkan pengobatan seperti ini, latar belakangnya apa, dan apa teori yang dipakai.

"Jadi dari kita selalu itu. Telusuri dulu siapa yang pencetusnya, lalu apa maksudnya, kerjanya bagaimana, referensinya dari mana," tandasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini