TRIBUNNEWS.COM, BANJARMASIN - Awalnya hanya iseng, lama-lama ketidaksenagajan ini justru berbuah manis. Empat balita penderita Hydrocephalus (penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan di dalam otak) pun terbantu.
Ketidaksengajaan ini mengawali terbentuknya Komunitas Online Peduli (KOP) di Banjarmasin.. Awalnya, Apunk fotografer Banjarmasin Post (Tribunnews.com Network) memajang foto balita balita asal Banjarbaru yang menderita Hydrocephalus di smartphone miliknya. Foto plus status tertulis "mudahan ada dermawan yang bisa membantu anak malang tersebu,".
Tak disangka, selang beberapa menit, foto bayi malang yang dipasang Apunk pun mendapat respon. Adalah dr.Erika Dewi Essary juga ikut memajang foto balita Hydrocephalus itu. Alhasil bantuan pun mulai mengalir.
"Dalam hitungan beberapa menit saja bantuan dari orang-orang yang kami kenal lewat pertemanan di antar BlackBerry. Jumlahnya mencapai 10 juta lebih," kata forografer bertubuh kurus ini.
Semua dana yang diterima Erika dan Apunk pun selalu di up date di status BlacBerry Messenger (BBM) mereka. "Dengan cara kami mengupdate hasil sumbangan ternyata memacu teman2 lainnya untuk berfartisipasi membantu menggalang dana kemanusian secara online", ungkap," dr Erika yang saat ini dinobatkan sebagai ketua KOP.
Tanpa disangka pula, bantuan terus saja mengalir. Baru hari kedua dari awal penggalangan dana, donasi yang masuk ke KOP sudah mencapai Rp 100 juta. Dana tersebut kemudian oleh Yanda Virgina, ST yang bekerja di salah satu perbankkan di Banjarmasin didistribusikan langsung ke pnederita dengan cara membukakan rekening baru atas nama pemilik rekening penderita.
KOP terbentuk resmi bertepatan dengan peringatan hari ibu. KOP yang digagas dari ketidaksengajan ini kemudian mengusung nama mereka menjadi komunitas yang bergerak di sosial kemanusiaan.
Anggota komunitas ini sepakat akan membantu anak-anak yg berlatar belakang keluarganya tidak mampu.
KOP bukan organisasi atau lembaga pengelola dana atau uang melainkan pembuka jalan untuk orang - orang yg tidak mampu namun memerlukan dana ntuk kesembuhan ataupun keperluan sosial lainnya seperti pendidikan anak.
"Kami memposisikan diri sebagai kepanjang tangan donatur yang mau membantu bagi mereka yg benar-benar membutuhkan, itupun kami melakukan penggalangan dananya secara online, tidak ada paksaan dan tidak mengunakan bahasa - bahasa kearah janji-janji atau menjual mimpi kepada donasi, ungkap, "Gina anggota KOP lainnya..
Komunitas yang beranggota 11 orang 3 pria dan 8 wanita dari latar belakang yang berbeda ini sudah membantu empat kasus hydrachpalus. Salah satunya M Ibnu Aqil (8,5 bln) penderita hydrachpalus asal Cempaka, Kota Banjarbaru yang proses pengobatannya hingga kini masih berjalan di ruang ICCU RSUD Ulin Banjarmasin. Ibnu telah menjalani operasi mengeluarkan cairan dikepala.
Baca tanpa iklan