TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kanker paru masih menjadi salah satu tantangan kesehatan utama, baik secara global maupun nasional.
Data GLOBOCAN 2022 menunjukkan bahwa kanker paru merupakan penyumbang kasus dan kematian tertinggi akibat kanker di dunia.
Di Indonesia, kanker menyumbang 9,5 persen dari total kasus kanker dan 14,1 persen dari total kematian akibat kanker. Sebagian besar pasien masih terdiagnosis pada stadium lanjut, yang berdampak pada rendahnya peluang keberhasilan terapi.
Baca juga: Pencipta Lagu September Ceria James F. Sundah Meninggal, Didiagnosis Kanker Paru-paru Sejak 2024
“Kanker paru masih menjadi salah satu beban kesehatan terbesar di Indonesia, dengan angka kematian tertinggi di antara jenis kanker lainnya. Yang menjadi tantangan utama adalah sebagian besar pasien datang dalam stadium lanjut, sehingga peluang keberhasilan terapi menjadi lebih terbatas," kata dr. Jaka Pradipta, Sp.P (K) Onk.A
Kondisi ini menunjukkan bahwa masih diperlukan upaya yang lebih kuat dalam meningkatkan kesadaran, deteksi, dan penanganan kanker paru secara lebih komprehensif agar tidak menjadi beban bagi sektor kesehatan di Indonesia.
Baru-baru ini, AstraZeneca Indonesia bersama Indonesian Cancer Information and Support Center Association (CISC) menyelenggarakan kegiatan Training of Trainers (ToT). Tujuannya, untuk memperkuat peran pendamping pasien (patient navigator) dalam mendukung penanganan yang lebih optimal.
Di kegiatan ini peserta mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya deteksi dini, pemanfaatan teknologi skrining berbasis low-dose CT scan (LDCT), serta perkembangan terapi kanker paru yang kini semakin beragam, mulai dari kemoterapi, terapi target, hingga imunoterapi.
Inovasi dalam pengobatan ini berkontribusi pada peningkatan angka harapan hidup pasien kanker paru.
“Kolaborasi dengan CISC dalam kegiatan ini mencerminkan keyakinan kami bahwa penanganan kanker paru yang optimal tidak bisa berdiri sendiri, namun membutuhkan ekosistem dukungan yang kuat, mulai dari tenaga medis hingga komunitas pasien," ungkap Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay.
Peran patient navigator dinilai penting bagi penanganan kanker paru dengan perannya sebagai tenaga pendamping dalam memahami perjalanan pengobatan, dan penghubung antara pasien dengan sistem layanan kesehatan.
"Kami percaya bahwa dengan memperkuat komunitas pasien, kepatuhan terapi dapat meningkat dan pada akhirnya berkontribusi pada hasil pengobatan yang lebih baik," ungkapnya.
Kegiatan ini juga menekankan pentingnya kepatuhan pasien dalam menjalani terapi. Kepatuhan terhadap pengobatan terbukti berperan signifikan dalam meningkatkan prognosis dan kualitas hidup pasien kanker.
Namun, berbagai tantangan seperti efek samping terapi, beban psikologis, hingga keterbatasan akses layanan kesehatan masih menjadi hambatan yang perlu diatasi secara kolaboratif.
Baca tanpa iklan