News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Jangan Pentingkan Harga Murah Saat Check Up Jantung

Penulis: Choirul Arifin
Editor: Dewi Agustina
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Serangan jantung

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Biaya yang murah masih lebih dipentingkan oleh sebagian besar masyarakat kita dalam memilih dokter untuk kebutuhan medical check up. Mereka cenderung mementingkan harganya yang murah dulu ketimbang
mementingkan kualitas dan akurasi hasil medical check up yang didapatkannya.

"Medical check up yang berkualitas sebenarnya sangat bergantung pada kemampuan dokternya, juga mesin-mesin yang digunakan, serta timnya," kata Direktur Cardiac Center RS Bethsaida, Serpong, Dr Dasaad Mulijono MBBS (Hons) FIHA, FIMSANZ, FRACGP, FRACP, Phd pada seminar setengah hari membahas topik "Metode Terbaru untuk Melebarkan Pembuluh Darah Arteri Koroner yang Menyempit (PCI)" di RS Bethsaida, Gading Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (23/9/2013).

Akibatnya, hasil medical check up yang diterima, menjadi kurang akurat untuk dipakai rujukan bagi pasien untuk mencegah datangnya serangan penyakit-penyakit kritis tertentu.

Kekeliruan atau ketidakakuratan dalam melakukan medical check up, lanjut dr Dasaad, diduga juga terjadi pada orang orang kaya. Dia menduga, kasus kematian dua figur publik, Adjie Massaid (anggota DPR RI) dan Ricky Jo (presenter olahraga di televisi) yang meninggal dunia mendadak karena serangan jantung, diduga terjadi karena keduanya tidak mendapat hasil medical check up yang akurat sebelumnya.

Dr Dasaad mencontohkan, ketika langkah CT Scan saja tidak bisa dijadikan acuan untuk mengetahui kondisi kesehatan jantung seseorang.

"Untuk mengetahui apakah ada dugaan sumbatan pembuluh darah di jantung harus dilakukan kateterisasi," ujarnya.

Kateterisasi menurutnya mampu memberikan hasil diagnosis/pemeriksaan yang lebih akurat ketimbang CT Scan.

"CT Scan akurasinya hanya sekitar 50-60 persen," jelas dokter yang lama bermukim di Australia untuk memperdalam ilmu kedokterannya ini.

"Ukuran jantung sebesar genggaman telapak tangan kita. Di dalamnya ada pembuluh darah koroner. Saat orang terkena serangan jantung, pembuluh darahnya ini yang kena. Biasanya muncul sumbatan. Sumbatan itu yang membuat pasien mengeluh sakit di dada. Jika tersumbat dan tidak ada langkah penanganan cepat, akibat paling buruk adalah pasien meninggal dunia," jelas dr Dasaad.

Sumbatan tersebut, biasanya diawali dengan munculnya plak, misal akibat kadar kolesterol yang tinggi, yang kemudian berangsur mencekik aliran pembuluh darah ke jantung.

Dia menambahkan, saat saluran pembuluh darah tersumbat, jantung berdetak dengan keras.

Dr Dasaad menyebutkan, di Indonesia banyak budaya buruk masyarakat yang menjadi faktor risiko kuat terjadinya serangan jantung. Antara lain, kebiasaan merokok, darah tinggi, dan pola makan yang buruk yang memicu kolesterol.

"Kolesterol tinggi memicu terbentuknya lak pada saluran pembuluh darah di jantung," dr Dasaad mengingatkan.

Faktor risiko lainnya, namun bersifat tidak dapat diubah antara lain, ada riwayat keluarga yang pernah terkena serangan jantung. Misalnya, orangtua, kakak dan lain-lain.

"Itu merupakan faktor genetik yang tidak bisa dihindari," jelasnya.

Orang yang memiliki keluarga dekat pernah terkena serangan jantung, peluang terkena serangan jantungnya lebih besar ketimbang mereka yang tidak memiliki keluarga yang punya riwayat serangan jantung.

Karena itu, langkah mawas diri, dengan berkala melakukan medical check up rutin ke dokter yang berpengalaman dan dengan peralatan lengkap menjadi sangat penting.

"Dalam kasus meninggalnya almarhum Adjie Massaid dan Ricky Jo, anak-anak almarhum berpeluang kena serangan jantung seperti orangtuanya. Karena itu, keluarganya mesti sadar, harus selalu melakukan medical check up untuk anak-anak
almarhum," papar dr Dasaad.

Dr Dasaad lalu mencontohkan dirinya sendiri yang memiliki keluarga dengan riwayat serangan jantung.

"Kakak saya sudah kena, paman saya sudah meninggal semua di usia muda (karena serangan jantung). Karena itu saya jaga diri sejak muda dengan minum obat sejak muda. Ketika Adjie Massaid meninggal dunia karena serangan jantung, juga Ricky Jo itu, maka anak-anaknya harus melakukan medical check up rutin karena mereka sangat berisiko,"
tegasnya.

Yang perlu diketahui pula, laki-laki lebih berisiko terkena serangan jantung ketimbang wanita. Ini karena wanita dalam usia reproduksi aktif, dilindungi oleh hormon estrogen yang mencegahnya terkena serangan jantung.

"Wanita dilindungi oleh hormon estrogen sampai saat menopause. Setelah menopause, risiko terkena serangan jantung dia sama seperti laki-laki," ungkap dr Dasaad.

Faktor-faktor risiko yang perlu dikenali sebagai pemicu serangan jantung adalah kadar kolesterol/LDL yang tinggi, LDL yang teroksidasi, kadar kolesterol HDL yang rendah, kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi, intoleransi tubuh terhada gula dan diabetes (glucose intolerance), obesitas, kurang olahraga, kelainan pembekuan darah (fibrinogen,
agregasi trombosit), kelainan faktor-faktor tertentu dalam darah, stres, kepribadian negatif, serta kebiasaan memiliki rasa takut dan cemas.

"Pasien yang mengalami glucose intolerance jika dibiarkan bertahun-tahun bisa mengalami penyakit kencing manis. Orang yang obesitas atau kegemukan, orang gemuk gampang terkena kolesterol tinggi dan kencing manis. Kegendutan adalah suatu penyakit," tegasnya.

Dia juga menyebutkan, kadar kolesterol normal harus maksimal 60, bukan 100. (choirul arifin)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini