TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Executive Director Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ), Caroline Riady mengatakan, perubahan gaya hidup dan ketidaktahuan masyarakat, banyak pasien yang terlambat ditangani.
Tidak berlebihan dokter sering menemukan permasalahan sebagai manifestasi beberapa penyakit lainnya.
"Akhirnya rumah sakit perlu dokter senior dan teknologi terkini untuk penanganannya," kata Caroline di Jakarta, Jumat (12/2/2016).
Fakta ini mendorong SHKJ menghadirkan dokter-dokter yang mampu menegakkan diagnosa yang tepat dan menatalaksana setiap masalah pasien baik operatif maupun non operatif.
Caroline menambahkan, selama 25 tahun sejak didirikan, SHKJ telah melakukan 25 tindakan medis dari beberapa spesialis.
"Kami memberikan 250 pelatihan gawat darurat, 2.500 skrining jantung, dan 25.000 orang teredukasi tentang hidup sehat secara gratis melalui seminar awam dan media massa," katanya.
Sampai saat ini SHKJ sudah melayani lebih dari 16.500 bayi, 250 ribu pasien rawat inap dan pasien rawat jalan.
Rangkaian persembahan SHKJ bagi Indonesia terdiri dari 25 tindakan medis, antara lain meliputi tindakan jantung, shock wave lithotripsy (ESWL) yaitu tindakan pemecahan batu saluran kencing, melahirkan, dan sirkumisi.
"Tindakan ini ditujukan bagi polisi, guru, atlet, pahlawan, petugas kebersihan, dan keluarga inti yang telah mengabdikan diri bagi Indonesia," katanya.
SHKJ diakuisisi pertama oleh Siloam Hospitals Group (SHG). Didirikan pada 1991 oleh beberapa dokter dengan nama Graha Medika Hospital, kemudian diintegrasikan ke dalam model SHG pada 2006.