Dengan bantuan medis, seperti terapi obat, hipnoterapi, atau akupunktur, angka keberhasilan bisa meningkat hingga 35–50 persen.
Misalnya, penelitian tahun 2013 menunjukkan pemberian obat vareniklin bisa membantu hingga 50 persen.
Riset terbaru tahun 2019 dengan enacetylcysteine mencatat keberhasilan sekitar 37,6 persen.
Mengubah Withdrawal Jadi Momentum
Alih-alih melihat withdrawal sebagai musibah, ada baiknya menganggapnya sebagai tanda tubuh sedang belajar sembuh.
Misalnya, jika tubuh terasa stres setelah berhenti merokok, bisa dialihkan dengan aktivitas penghilang stres, bersepeda, berkebun, atau sekadar menulis jurnal harian.
Jika insomnia menyerang, latihan pernapasan, meditasi ringan, atau bantuan dokter bisa menjadi solusi.
“Kalau misalnya stres, gantilah dengan kegiatan positif. Misalnya hobi, bersepeda, atau bertanam. Kalau tetap tidak berhasil, jangan ragu ke dokter. Ada terapi medis yang bisa membantu,” ujar Prof. Agus.
Lingkungan Jadi Penentu
Selain faktor biologis, lingkungan juga memainkan peran besar. Sering kali, niat berhenti runtuh hanya karena ajakan teman sebatas “ayo sebatang aja”.
Menurut Prof. Agus, jika ingin berhasil berhenti, seseorang perlu menjaga jarak dengan lingkungan yang kental dengan budaya merokok.
“Kalau ingin tidak terpengaruh, ya kurangi kontak dengan orang-orang yang masih merokok. Kalau terbiasa di situasi banyak rokok, sulit untuk benar-benar lepas,” pesannya.
Fakta-fakta ini jarang muncul di headline kampanye anti-rokok. Kebanyakan fokus pada bahaya kesehatan jangka panjang, padahal tantangan terberat berhenti merokok justru terjadi di hari-hari pertama.
Memahami withdrawal effect bukan hanya menyelamatkan kesehatan fisik, tapi juga menjaga kesehatan mental para pejuang bebas rokok.
Berhenti merokok bukan sekadar soal niat, tapi soal kesiapan menghadapi pertarungan batin, tubuh, dan lingkungan.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Baca tanpa iklan