Anak mungkin sulit fokus, kehilangan semangat belajar, atau menarik diri dari lingkungan sosial.
Beberapa anak bahkan bisa menjadi hiperwaspada, merasa seolah bahaya bisa datang kapan saja.
“Bisa dibayangkan bagaimana perasaan anak yang setiap kali mendengar suara keras langsung ketakutan. Itu bukan sekadar takut biasa, tapi bentuk memori trauma yang terus aktif,” kata Analisa.
Tanggung Jawab Bersama
Dalam situasi pascabencana, Analisa menekankan bahwa masyarakat juga perlu memahami pentingnya memberi ruang aman bagi anak-anak korban.
Anak perlu didengar, bukan dihakimi, dipeluk, bukan ditekan untuk cepat melupakan.
“Anak mungkin tidak akan lupa kejadian itu. Tapi yang penting adalah bagaimana ia bisa mengendalikan diri ketika ketakutan muncul,” ujarnya.
Analisa berharap pemerintah dan lembaga sosial memberi perhatian lebih pada pemulihan psikologis anak-anak di lokasi bencana.
Karena luka batin yang tak terlihat bisa berdampak jauh lebih lama daripada luka fisik yang sembuh di permukaan.
Baca tanpa iklan