News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Kenapa Sering Makan Saat Stres? Psikolog Jelaskan Fenomena Emotional Eating

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

EMOTIONAL EATING - ingin makan padahal tidak merasa lapar? Bisa jadi hal itu bukan karena perut, melainkan karena pikiran yang sedang lelah. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah emotional eating makan bukan untuk memenuhi kebutuhan fisik, melainkan untuk menenangkan emosi.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pernahkah kamu tiba-tiba ingin makan padahal tidak merasa lapar? Bisa jadi hal itu bukan karena perut, melainkan karena pikiran yang sedang lelah.

Fenomena tersebut dikenal dengan istilah emotional eating — makan bukan untuk memenuhi kebutuhan fisik, melainkan untuk menenangkan emosi.

Psikolog Naomi Ernawati Lestari, M.Psi., menjelaskan bahwa stres memang memengaruhi tubuh dengan cara yang berbeda-beda.

“Kalau untuk stres, tubuh bisa bereaksi dua arah. Ada yang kalau stres justru jadi banyak makan, tapi ada juga yang malah tidak nafsu makan sama sekali. Itu tergantung kepribadian masing-masing orang,” ujar Naomi saat ditemui di Jakarta, Minggu (11/10/2025).

Ia menambahkan, stres ringan yang sering terjadi dalam keseharian justru paling sering memicu emotional eating.

Baca juga: Mengenali Beda Makan karena Lapar dan Emotional Eating

“Biasanya kalau stres ringan — yang sering kita alami di kantor atau kehidupan sehari-hari — pelariannya jadi makan. Tapi kalau stres sudah berat, bahkan bisa disertai depresi, seseorang justru bisa kehilangan selera makan,” jelasnya.

Fenomena ini tampak sepele, namun sesungguhnya menggambarkan cara seseorang mengelola emosinya.

Saat sedih, cemas, marah, atau tertekan, otak mencari jalan pintas untuk menenangkan diri.

Makanan, terutama yang manis, asin, atau berlemak, kerap menjadi pelarian instan. Naomi menyebut hal ini sebagai bentuk distraksi emosional.

“Sebenarnya karena kita butuh cara cepat untuk membuat emosi stabil — mengalihkan rasa sedih, stres, atau marah. Jadi kita mendistraksi diri lewat makan,” tuturnya.


 Makanan 'Pelukan Instan' Otak

Ketika seseorang makan, terutama makanan tinggi gula dan karbohidrat, otak melepaskan hormon dopamin dan serotonin — zat kimia yang menimbulkan rasa nyaman dan bahagia.

Inilah alasan mengapa seseorang bisa merasa lebih baik setelah menyantap cokelat, kue, atau gorengan.

Namun efek tersebut hanya sementara. Setelah rasa nyaman itu hilang, rasa bersalah atau kenaikan berat badan sering kali justru menambah tekanan baru.

Siklus ini akhirnya membuat seseorang terjebak dalam lingkaran stres dan makan berlebihan.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini