TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dokter spesialis paru dan pernapasan (pulmonologi) DR dr Fathiyah Isbaniah Sp P(K), FIRS mengungkapkan, pada umumnya pasien yang terinfeksi influenza tipe A dapat sembuh sendiri tanpa perawatan khusus di rumah sakit (RS). Influenza tipe A merupakan salah satu jenis virus influenza yang menyerang hidung, tenggorokan, dan paru-paru.
Baca juga: Lonjakan Penyakit Flu Landa Asia, Virus Influenza H3N2 Dominasi Kasus di Indonesia
Penyakit ini biasanya terjadi pada musim pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke kemarau karena melemahnya daya tahan tubuh seseorang. Jika imun seseorang kuat maka penyakit ini bisa sembuh dalam 3 – 4 hari atau 1 minggu paling lama.
“Jika anak muda yang punya daya tahan tubuh kuat saat terkena influenza tipe ini akan sembuh sendiri,” kata dia saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (21/10/2025).
Meskipun virus influenza ada beberapa jenis, penanganannya hampir sama. Jika sakit gunakan masker saat bepergian atau di kerumunan, istirahat yang cukup, konsumsi cairan dan makanan bergizi seimbang.
Dokter di RSUP Persahabatan Jakarta Timur ini menerangkan, virus ini menular dari droplet atau percikan air liur dari orang yang infeksi. Virus ini menyebar ketika bersin, batuk atau berbicara.
Adapun gejala khas dari virus tipe ini adalah muncul mendadak dan berat seperti demam sampai 40 derajat celcius, nyeri otot, nyeri sendi, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan dan hidung tersumbat.
Baca juga: Mengenal Virus H3N2 yang Jadi Pemicu Kasus Flu Meroket di Indonesia: Biasa Ditemukan di Hewan Babi
Pada kasus berat influenza tipe A menjadi pneumonia, gagal nafas sampai kematian.
Karena itu pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia vaksin flu diperlukan untuk melindungi diri dari infeksi virus flu dan komplikasi serius.
Ia menegaskan, vaksin flu memang tidak melindungi diri 100 persen tetapi jika terinfeksi maka tidak menjadi fatal.
“Infeksi influenza tipe A ini bisa fatal pada orang-orang yang daya tubuhnya lemah contohnya anak-anak, lansia dengan komorbid seperti diabetes melitus yang tidak terkontrol, jantung, ginjal maupun gangguan hati,” jelas dr Fathiyah.
Dari data Kemenkes, kenaikan kasus influenza terjadi pada 4 minggu terakhir di 2025 ini yaitu pada minggu 33 sampai minggu ke 37. Berikut 5 provinsi dengan kasus penyakit serupa influenza tertinggi di tahun 2025, dimana data ini diambil dari minggu pertama sampai dengan minggu ke 39 tahun 2025. Jawa Timur sebanyak 344.664 kasus, Jawa Tengah 174.058 kasus, Jawa Barat 171.198 kasus, Sumatera Utara 145.052 kasus dan Aceh dengan 48.589 kasus.
Tidak hanya itu, ada peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) berkaitan dengan musim hujan. Diketahui, influenza merupakan penyebab ISPA. Kasus ISPA mengalami kenaikan pada minggu 33 sampai minggu ke 37.
Umumnya ISPA tidak membahayakan, tetapi gejalanya bisa menyebabkan ketidaknyamanan dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Terlebih bagi Bila ISPA anak-anak, lansia, atau individu dengan daya tahan tubuh lemah, kondisi ini perlu lebih diperhatikan, karena dapat berkembang menjadi infeksi yang berat.
Baca tanpa iklan