Ringkasan Berita:
- Virus influenza bukan hanya menyerang saluran napas
- Selain saluran napas, virus tersebut menyebar melalui aliran darah ketka infeksi sudah berat sehingga memengaruhi organ lain
- Namun, proses penyebaran ke otak tidak terjadi seketika
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Flu yang dianggap sepele sering kali membuat orang tua menunda pemeriksaan ke dokter.
Padahal pada sebagian anak, influenza dapat berkembang cepat dan memicu kondisi serius, termasuk risiko yang berkaitan dengan otak bila infeksi sudah menyebar ke seluruh tubuh.
Spesialis Anak Eka Hospital Depok, dr. Nadine Shakina Tabit, Sp.A, menjelaskan bahwa virus influenza bukan hanya menyerang saluran napas.
Tetapi juga dapat menyebar melalui aliran darah ketika infeksi sudah berat. Pada kondisi tertentu, perjalanan virus dapat memengaruhi organ penting lain.
Baca juga: Bukan Sekadar Flu Biasa, Gejala Influenza A Biasanya Muncul Mendadak
“Permasalahannya adalah ketika dia terkena, kita kan punya saluran peredaran darah, ini kan juga bisa membawa virus ini kemana-mana. Itu bisa juga nanti dia runtutannya ke sana (otak),” jelas dr. Nadine pada media briefing di Jakarta Selatan, Selasa (25/11/2025).
Meski begitu, ia menegaskan bahwa proses penyebaran ke otak tidak terjadi seketika.
Virus membutuhkan waktu untuk berkembang sehingga pemantauan ketat di fase awal sakit menjadi sangat penting.
Risiko Kejang dan Dampak pada Perkembangan Anak
Salah satu tanda bahaya yang paling dikhawatirkan dokter adalah kejang. Kejang dapat muncul akibat beberapa faktor, termasuk demam tinggi, dehidrasi, maupun infeksi yang berkembang cepat.
Lebih lanjut dr. Nadine mengingatkan bahwa orang tua tidak boleh menunda ketika gejala kejang muncul.
“Kalau ada simptom kejang udah jangan ditunda lagi, karena kita memang tidak pernah tahu kapan dia nanti akhirnya berakibat ke motorik ke depannya,” ujarnya.
Bila virus atau infeksi yang menyertai telah memengaruhi otak, risiko keterlambatan perkembangan (delay) bisa terjadi.
Kondisi ini dapat bersifat permanen bila tidak ditangani dengan cepat, terutama di usia emas anak pada dua tahun pertama kehidupan.
“Kalau udah delay mbak, permanen. Apalagi 2 tahun pertama tuh kan makanya kan sampai pemerintah juga ada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) kan, karena kan pertumbuhan otak disitu,” jelasnya lebih lanjut.
Karena itu, orang tua perlu memantau perubahan kondisi anak setiap hari, terutama bila gejala influenza tampak semakin berat atau berbeda dari biasanya.
Seberapa Cepat Infeksi Bisa Menyerang Otak?
Menurut dr. Nadine, perjalanan virus menuju otak biasanya tidak terjadi mendadak, tetapi melalui proses yang berkembang bertahap.
Pada sebagian besar kasus, infeksi berat baru terlihat setelah beberapa hari.
Namun, ia juga menegaskan bahwa perjalanan penyakit pada setiap anak berbeda.
Ada kasus yang memburuk lebih cepat karena faktor individu, daya tahan tubuh, atau infeksi penyerta lainnya.
Pada umumnya, infeksi influenza yang berkembang menjadi komplikasi berat membutuhkan waktu lebih dari lima hari.
Tetapi pada kasus tertentu, kondisi memburuk lebih cepat, sehingga pemeriksaan medis tetap wajib dilakukan bila ada tanda tidak biasa seperti napas cepat, sesak, atau anak tampak sangat lemah.
Karenanya, dr. Nadine memberikan panduan praktis untuk orang tua dalam memantau kondisi anak saat flu:
1. Demam lebih dari tiga hari, langsung periksa
2. Sesak napas, napas cepat, atau terlihat “terengah”, harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan
3. Bila anak mengalami kejang, pemeriksaan tidak boleh ditunda
4. Jika dalam 5 hari batuk pilek tidak membaik atau justru memburuk, segera konsultasikan
Ia menambahkan bahwa sebagian anak masih dapat dipantau di rumah bila gejalanya ringan, kondisi umum baik, makan dan minum cukup, serta tidak ada tanda kegawatan.
“Kalau anaknya baik-baik aja, gak apa-apa, kasih vitamin, (pantau) sampai 5 hari,” jelasnya.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Baca tanpa iklan