“Data menunjukkan bahwa secara epidemiologi dari 10 orang yang terinfeksi influenza, 8 itu karena influenza yang subgrade K ini yang disebut superflu ini,” ungkap Dicky.
Lebih Banyak yang Terinfeksi, Bukan Lebih Mematikan
Perbedaan utama super flu dan flu biasa bukan terletak pada tingkat keganasannya, melainkan jumlah orang yang terpapar.
Dominasi subclade K membuat angka infeksi meningkat tajam, sehingga otomatis jumlah pasien yang membutuhkan perawatan medis ikut bertambah.
Meski demikian, tingkat kematian akibat super flu tergolong rendah. Case fatality rate tercatat sekitar 0,1 persen.
Angka ini menunjukkan bahwa virus tersebut tidak lebih mematikan dibandingkan influenza lainnya.
Namun, Dicky mengingatkan bahwa ketika jumlah kasus melonjak, maka proporsi pasien yang harus dirawat di rumah sakit tetap akan meningkat, terutama pada kelompok tertentu.
Perbedaan Gejala pada Kelompok Rentan
Dari sisi gejala, flu biasa umumnya menimbulkan demam ringan, pilek, batuk, dan nyeri badan yang dapat sembuh dalam beberapa hari.
Pada super flu, gejala bisa menjadi jauh lebih berat, terutama pada lansia dan anak kecil.
Hal ini berkaitan dengan jenis virus influenza A, khususnya H3N2, yang dikenal lebih sering menyebabkan komplikasi serius pada manusia. Subclade K merupakan turunan dari jenis ini.
“Nah ini gejalanya demam tinggi biasanya ya. Bisa sampai 40-an derajat kemudian juga batuk yang produktif terus menurus lama batuknya bisa lama disertai nyeri tenggorokan yang cukup hebat,” kata Dicky.
Selain demam tinggi dan batuk berkepanjangan, penderita juga dapat mengalami nyeri kepala, nyeri otot, pilek berat, hingga suara menjadi parau.
Pada kondisi yang lebih parah, terutama pada lansia dengan penyakit penyerta dan anak di bawah lima tahun, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius.
Risiko Turun ke Paru-paru
Flu biasa umumnya hanya menyerang saluran pernapasan atas.
Baca tanpa iklan