TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Selama bertahun-tahun, banyak pasien kanker prostat di Indonesia harus menghadapi pilihan sulit menjalani operasi dengan metode konvensional yang berisiko tinggi terhadap kualitas hidup, atau mencari pengobatan ke luar negeri dengan biaya yang tidak sedikit.
Baca juga: Indonesia Siap Masuki Era Baru Pengobatan Pasien Kanker & Penyakit Genetik dengan Terapi Sel dan Gen
Kini, pilihan itu mulai berubah. Kehadiran teknologi bedah robotik Da Vinci XI di Indonesia menandai babak baru penanganan kanker prostat, memungkinkan pasien mendapatkan teknologi bedah mutakhir tanpa harus meninggalkan Tanah Air.
Teknologi ini memungkinkan operasi dilakukan secara minimal invasif dengan tingkat presisi tinggi, sehingga jaringan sehat di sekitar prostat dapat lebih terjaga. Dampaknya bukan hanya pada keberhasilan operasi, tetapi juga pada kualitas hidup pasien setelahnya.
Konsultan Urologi Onkologi Eka Hospital MT Haryono, Prof Dr dr Agus Rizal A.H. Hamid, Sp.U (K) Onk, FICRS, mengatakan kehadiran Da Vinci XI membawa perubahan besar dalam pendekatan operasi kanker prostat di Indonesia.
“Kini pasien tidak perlu lagi pergi ke luar negeri untuk mendapatkan penanganan prostat dengan teknologi modern,” ujar Prof Agus saat media briefing di Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Meski kerap disebut sebagai “robot bedah”, Prof. Agus menegaskan bahwa Da Vinci XI tidak bekerja secara otomatis. Seluruh tindakan operasi tetap dikendalikan penuh oleh dokter spesialis melalui sebuah konsol bedah.
“Robot ini bukan menggantikan dokter, tapi memperluas kemampuan tangan dan penglihatan dokter,” jelasnya.
Melalui sistem ini, dokter dapat menjangkau area yang sulit diakses dengan teknik bedah konvensional, tanpa harus membuat banyak sayatan besar yang berisiko meningkatkan nyeri dan memperpanjang masa pemulihan pasien.
Salah satu keunggulan utama Da Vinci XI terletak pada visualisasi tiga dimensi (3D) beresolusi tinggi. Dari surgical console, dokter dapat melihat struktur jaringan secara detail dan mendalam, termasuk saraf dan pembuluh darah penting yang mengelilingi prostat.
Empat lengan robot yang stabil menerjemahkan setiap gerakan tangan dokter menjadi gerakan mikro yang presisi, bebas dari tremor. Hal ini sangat krusial pada operasi kanker prostat, di mana kesalahan sekecil apa pun dapat berdampak pada fungsi berkemih dan kualitas hidup pasien.
Berbeda dengan operasi konvensional yang mengandalkan kekuatan dan ketahanan tangan dokter, Da Vinci XI menggunakan lengan robot yang mampu berputar dan meliuk menyerupai gerakan tangan manusia, bahkan pada sudut yang sulit dijangkau.
Baca juga: Tak Perlu ke Luar Negeri, Operasi Lutut Robotik di Indonesia Capai Standar Dunia
“Dengan teknologi ini, kami bisa bekerja milimeter demi milimeter secara lebih hati-hati,” kata Prof. Agus.
Konfigurasi empat lengan robot memungkinkan satu dokter spesialis melakukan tindakan kompleks secara lebih efisien dan konsisten, sekaligus mengurangi kelelahan selama operasi berlangsung.
Manfaat teknologi ini tidak hanya dirasakan di ruang operasi, tetapi juga selama masa pemulihan. Sayatan yang lebih kecil berarti trauma jaringan lebih minimal, nyeri pascaoperasi berkurang, serta risiko komplikasi menjadi lebih rendah.
Banyak pasien dapat menjalani rawat inap yang lebih singkat dan kembali beraktivitas lebih cepat dibandingkan operasi terbuka. Bagi pasien kanker prostat, hal ini menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas hidup pascaoperasi.
Baca tanpa iklan