Ringkasan Berita:
- Anak tidak harus langsung menjalani puasa penuh. Justru, pengenalan puasa bisa dimulai dari durasi yang sangat singkat
- Rasa bangga anak karena merasa “sudah ikut puasa” justru menjadi fondasi penting dalam membangun pengalaman positif terkait ibadah ini
- Anak yang belum kuat puasa tidak boleh dipaksa, karena tujuan utamanya adalah pembiasaan, bukan kewajiban
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bulan Ramadan kerap menjadi momen orang tua mulai mengenalkan ibadah puasa pada anak.
Namun pertanyaan klasik pun muncul: kapan waktu yang tepat anak mulai belajar puasa jika dilihat dari sisi kesehatan?
Dokter Umum dr. Irwan Heriyanto, MARS, menjelaskan bahwa belajar puasa pada anak sejatinya bukan soal kuat atau tidak kuat menahan lapar.
Melainkan proses bertahap yang disesuaikan dengan usia, kondisi tubuh, dan kesiapan anak itu sendiri.
Belajar Puasa Tak Harus Seharian Penuh
Menurut dr. Irwan, dalam praktiknya anak tidak harus langsung menjalani puasa penuh. Justru, pengenalan puasa bisa dimulai dari durasi yang sangat singkat.
Baca juga: MBG Tetap Dibagikan Saat Ramadan, Kepala BGN Sebut Menunya Tahan 12 Jam
“Kalau saya cabar untuk belajar melihat dari pengalaman budaya saya, saya di umur mungkin TK kali, itu sudah mulai diajarkan untuk berpuasa. Dia enggak harus full, enggak harus setengah hari. Dia punya minat di hitung puasa saja itu sudah bagus,” ujar dr. Irwan pada acara Halodoc Talks by Halodoc: Menjembatani Kesiapan dan Tantangan Kesehatan Selama Ramadan hingga Perayaan Idulfitri di Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).
Ia menekankan bahwa rasa bangga anak karena merasa “sudah ikut puasa” justru menjadi fondasi penting dalam membangun pengalaman positif terkait ibadah ini.
Anak bisa mulai dari puasa satu atau dua jam, lalu bertahap hingga menjelang waktu Zuhur. Seiring waktu dan usia, durasi puasa bisa ditingkatkan secara alami.
Usia Anak dan Kesiapan Tubuh Jadi Kunci
Dr. Irwan menyebutkan, secara umum di usia sekitar tujuh tahun, sebagian anak sudah mulai mampu menjalani puasa penuh. Namun, hal ini tetap tidak bisa disamaratakan.
“Nanti di usia 7 tahun mungkin dia sudah bisa full barangkali. Itu disemangatinya itu. Tapi kan kita tahu bahwa itu sebetulnya untuk melatih saja,” jelasnya.
Ia mengingatkan agar orang tua tidak menjadikan puasa sebagai beban atau tekanan.
Anak yang belum kuat tidak boleh dipaksa, karena tujuan utamanya adalah pembiasaan, bukan kewajiban.
Jangan Asal Puasa, Perhatikan Asupan Anak Sehari-hari
Dari sisi kesehatan, hal terpenting sebelum anak mulai belajar puasa adalah memastikan asupan gizinya sudah baik. Dr. Irwan menegaskan, puasa tidak boleh dilakukan dalam kondisi anak kekurangan nutrisi.
“Tentunya dia perhatikan juga sehari-harinya seperti apa. Kandungan makanannya seperti apa. Itu harus bagus dulu,” katanya.
Orang tua perlu memastikan anak terbiasa makan dengan pola seimbang, termasuk cukup karbohidrat, protein, serta cairan. Jika asupan sehari-hari sudah baik, proses belajar puasa pun akan lebih aman.
Anak Sering Lupa Minum, Ini yang Perlu Diwaspadai
Salah satu tantangan saat anak mulai puasa adalah kebiasaan lupa minum air putih. Padahal, kecukupan cairan sangat penting bagi tubuh anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
Karena itu, orang tua perlu lebih aktif mengingatkan anak untuk minum saat sahur dan berbuka, meski anak sering mengeluh “tidak haus” atau “tidak ada rasanya”.
Selain itu, dr. Irwan menyebutkan bahwa dalam kondisi tertentu, suplementasi bisa menjadi penunjang, terutama untuk mendukung proses tumbuh kembang anak selama Ramadan.
“Artinya bahwa semua untuk anak-anak kalau ingin memulai puasa sedikit mungkin, kalau memang anaknya sudah mau, jangan dipaksa, gitu kan. Tapi perhatikan juga impact-nya dia dan juga perlu menunjang dengan vitamin,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa belajar puasa pada anak harus bersifat fleksibel dan sangat individual.
Setiap anak memiliki kesiapan yang berbeda, baik secara fisik maupun mental.
Jika orang tua masih ragu, konsultasi dengan dokter anak bisa menjadi langkah bijak untuk memastikan kondisi anak aman sebelum mulai belajar puasa.
Ramadan pun bisa menjadi momen edukatif yang menyenangkan bagi anak, tanpa mengorbankan kesehatan dan kebutuhan tumbuh kembangnya.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Baca tanpa iklan