“Pada saat benar-benar sudah masuk di bulan puasa sendiri, muncul enggak ini penyakit-penyakit yang memang biasanya saya suka muncul,” katanya.
Dengan mengenali pola tersebut, seseorang dapat lebih siap menghadapi puasa tanpa panik, sekaligus menjaga aktivitas harian tetap berjalan normal.
3. Fase Idul Fitri: Godaan Santan dan Sambal Perlu Diantisipasi
Persiapan puasa tidak berhenti saat Ramadan berakhir. Fase Idul Fitri justru menjadi tantangan tersendiri, terutama dari sisi pola makan.
Menu khas Lebaran yang kaya santan dan sambal kerap menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi keluarga. Namun konsumsi berlebihan dapat berdampak pada kesehatan jika tidak diantisipasi sejak awal.
“Menu Idul Fitri itu enak-enak, santan semua, sambal,” ujar dr. Irwan.
Menurutnya, kesadaran sejak awal membuat seseorang lebih bijak menikmati hidangan Lebaran tanpa mengorbankan kondisi tubuh.
4. Fase Pasca-Lebaran: Waktu Tepat Evaluasi Kesehatan
Setelah melewati Ramadan dan Idul Fitri, fase terakhir yang tak kalah penting adalah evaluasi kondisi kesehatan. Pada tahap ini, tubuh perlu dicek kembali untuk memastikan semuanya dalam kondisi aman.
dr. Irwan menilai, pemeriksaan kesehatan sebaiknya dilakukan sebelum mengambil keputusan konsumsi obat atau tindakan medis tertentu.
“Sebelum saya minum obat dan lain sebagainya, saya cek dulu dong. Kolesterol gimana,” tuturnya.
Puasa Bukan Sekadar Rutinitas
Menurut dr. Irwan, keempat fase tersebut merupakan siklus yang pasti dilalui setiap umat Muslim setiap tahun.
Karena itu, kesiapan mental menjadi kunci utama agar puasa dapat dijalani dengan tenang dan sehat.
“Karena fase itu sudah pasti akan dilewati setiap umat muslim,” pungkasnya.
Dengan memahami tahapan ini, persiapan puasa tak lagi sekadar soal fisik, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan mental dan kesehatan secara menyeluruh.
Baca tanpa iklan