Menurutnya, kondisi tersebut menuntut kesiapan sistem layanan kesehatan serta peningkatan kewaspadaan klinis agar IBD dapat dikenali dan ditangani lebih dini.
Target Terapi Tak Lagi Sekadar Redakan Gejal
Dalam sesi ilmiah lain, para pakar menegaskan bahwa tujuan terapi IBD saat ini tidak hanya meredakan gejala, melainkan mencapai target yang lebih komprehensif. Pendekatan treat-to-target dinilai penting untuk mencegah progresivitas penyakit dan kerusakan usus jangka panjang.
“Keputusan terapi harus mempertimbangkan efektivitas, keamanan, kecepatan respons, serta preferensi pasien, agar kualitas hidup dapat dioptimalkan,” ujar Prof. Ling Khoon Lin, konsultan gastroenterologi dari Singapura.
Dengan meningkatnya kasus IBD dan masih sering terlewatnya gejala awal—terutama pada anak—para ahli menilai edukasi, kewaspadaan dini, dan kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci untuk menekan dampak penyakit ini di masa depan.
Baca tanpa iklan