Ringkasan Berita:
- Ancaman penyebaran virus Nipah yang termasuk penyakit zoonosis kembali menjadi perhatian.
- Pemerintah perlu mengambil langkah antisipatif melalui kampanye digital protokol kesehatan yang lebih adaptif terhadap risiko penularan dari hewan ke manusia.
- Anggota Komisi IX DPR menekankan pentingnya pendekatan edukatif yang mudah dipahami masyarakat luas.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ancaman penyebaran virus Nipah yang termasuk penyakit zoonosis kembali menjadi perhatian.
Sebagai informasi, virus Nipah adalah Virus adalah penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia) yang disebabkan oleh virus dari genus Henipavirus.
Baca juga: Virus Nipah Kembali Muncul di India, Ini Gejala, Penularan, dan Tingkat Bahayanya
Virus ini diklasifikasikan sebagai patogen prioritas oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO karena memiliki tingkat kematian yang tinggi.
Diperkirakan antara 40 persen hingga 75 persen dan potensi menyebabkan epidemi.
Anggota Komisi IX DPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa, menilai pemerintah perlu mengambil langkah antisipatif melalui kampanye digital protokol kesehatan yang lebih adaptif terhadap risiko penularan dari hewan ke manusia.
Menurut Neng Eem, pola ancaman kesehatan global saat ini tidak lagi hanya berasal dari penularan antarmanusia, melainkan juga dari interaksi manusia dengan hewan dan lingkungan sekitar.
"Tantangan kesehatan ke depan banyak bersumber dari zoonosis seperti virus Nipah. Pemerintah harus memanfaatkan platform digital secara masif untuk mengedukasi masyarakat tentang bagaimana protokol berinteraksi dengan hewan dan menjaga kebersihan pangan agar tidak terkontaminasi," kata Neng Eem kepada wartawan, Minggu (1/2/2026).
Legislator PKB asal Jawa Barat itu menekankan pentingnya pendekatan edukatif yang mudah dipahami masyarakat luas.
Dia mendorong kementerian dan lembaga terkait untuk memproduksi konten kreatif berbasis digital yang berfokus pada kebersihan pangan serta pencegahan kontak dengan hewan liar.
"Protokol kesehatan harus berevolusi. Masyarakat perlu tahu bahwa menjaga kebersihan makanan, seperti mencuci buah yang mungkin terpapar air liur kelelawar, adalah bagian dari pertahanan kesehatan nasional kita saat ini," ujarnya.
Neng Eem juga menilai, penyusunan materi kampanye sebaiknya melibatkan kolaborasi lintas disiplin, khususnya antara ahli kesehatan manusia dan kesehatan hewan melalui pendekatan One Health.
Dengan demikian, pesan yang disampaikan tetap berbasis ilmiah namun komunikatif.
"Kita harus proaktif. Kampanye digital yang cerdas dan tepat sasaran akan membangun kewaspadaan publik tanpa memicu kepanikan. Tujuannya adalah membangun kemandirian masyarakat dalam menerapkan prokes secara sadar sebagai gaya hidup baru," ucap Neng Eem.
Dia berharap penguatan literasi kesehatan digital dapat berperan memutus mata rantai penularan zoonosis sejak dari lingkup keluarga, sekaligus melengkapi kebijakan skrining ketat yang diterapkan pemerintah di pintu masuk negara.
"Literasi masyarakat mengenai risiko penyakit zoonosis masih perlu ditingkatkan agar protokol kesehatan tidak hanya dipandang sebagai pencegahan antarmanusia, tetapi juga interaksi dengan lingkungan dan hewan," tandasnya.
Munculnya laporan kasus virus Nipah di India membuat pemerintah Indonesia meningkatkan kewaspadaan.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman mengatakan, tingkat fatalitas penyakit tersebut cukup tinggi, yakni berkisar antara 40 hingga 70 persen pada pasien dengan gejala berat.
Baca tanpa iklan