News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Keterlambatan 30 Menit Penanganan Lipat Gandakan Risiko Kematian Akibat Serangan Jantung

Penulis: Willem Jonata
Editor: Erik S
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI PENYAKIT JANTUNG- Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat angka kematian akibat jantung koroner mencapai 245.343 jiwa, disusul jantung hipertensi sebanyak 50.620 jiwa.

Ringkasan Berita:

  • Serangan jantung kini tidak lagi hanya menyasar usia lanjut, tetapi juga mulai mengancam kelompok usia produktif, yakni 19-64 tahun 
  • Salah satu pemicu tingginya angka fatalitas ini adalah minimnya pemahaman masyarakat mengenai betapa krusialnya waktu dalam menangani serangan jantung
  • Setiap keterlambatan 30 menit dalam penanganan medis akan meningkatkan risiko kematian sebesar 7 hingga 10 persen

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat angka kematian akibat jantung koroner mencapai 245.343 jiwa, disusul jantung hipertensi sebanyak 50.620 jiwa.

Ironisnya, serangan jantung kini tidak lagi hanya menyasar usia lanjut, tetapi juga mulai mengancam kelompok usia produktif, yakni 19-64 tahun. 

Salah satu pemicu tingginya angka fatalitas ini adalah minimnya pemahaman masyarakat mengenai betapa krusialnya waktu dalam menangani serangan jantung.

Kerusakan otot jantung dapat terjadi secara permanen hanya dalam waktu 20 hingga 30 menit setelah serangan dimulai.

Dalam dunia medis, dikenal prinsip 'time is muscle' yang berarti setiap detik keterlambatan dalam memulihkan aliran darah akan memperluas kerusakan otot jantung.

Secara statistik, setiap keterlambatan 30 menit dalam penanganan medis akan meningkatkan risiko kematian sebesar 7 hingga 10 persen. Oleh karena itu, kecepatan tindakan menjadi pembeda antara hidup dan mati bagi pasien.

Sesuai dengan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran, penanganan ideal bagi pasien serangan jantung harus mengikuti standar Door-to-Balloon, yakni kurang dari 90 menit sejak pasien pertama kali ditangani hingga penyumbatan pembuluh darah berhasil dibuka.

Chief Medical Officer Siloam International Hospitals, dr. Grace Frelita, menjelaskan bahwa prosedur nonbedah yang disebut Percutaneous Coronary Intervention (PCI) merupakan langkah utama mengembalikan aliran darah ke otot jantung. Prosedur ini dilakukan di laboratorium kateterisasi (Cath Lab) menggunakan balon dan stent atau ring.

Baca juga: Studi: Tidur di Jam yang Sama Setiap Malam Turunkan Risiko Penyakit Jantung

"Tindakan ini bertujuan untuk segera mengembalikan aliran darah yang terhambat, sehingga dapat mengurangi kerusakan jaringan, meredakan nyeri dada, serta secara signifikan meningkatkan peluang pemulihan pasien," jelas dr. Grace, Selasa (5/5/2026).

Guna menekan angka kematian, kesiapan infrastruktur medis menjadi sangat vital.

Fasilitas yang siap menangani kegawatdaruratan jantung seperti halnya Chest Pain Ready Hospital, harus memiliki sistem terintegrasi, mulai dari pemeriksaan EKG dalam 10 menit pertama di Instalasi Gawat Darurat (IGD), hingga kesiapan tim medis multidisiplin selama 24 jam penuh tanpa penundaan.

Integrasi layanan ini diharapkan mampu memberikan 'kesempatan hidup kedua' bagi pasien.

Masyarakat pun diimbau untuk tidak meremehkan gejala nyeri dada dan segera mencari bantuan medis ke rumah sakit dengan fasilitas penanganan jantung yang lengkap guna mendapatkan tindakan yang cepat dan tepat.

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini