News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Bisakah Lupus Disembuhkan? Ini Penjelasan Dokter Soal Penyakit Kronis Ini

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Acos Abdul Qodir
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

GEJALA LUPUS - Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi, dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR, memberikan penjelasan dalam diskusi media mengenai Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di Jakarta Selatan, Selasa (26/5/2026). Lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang paling banyak menyerang wanita usia produktif dan sering terlambat terdeteksi.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang tidak dapat disembuhkan secara total, namun dapat dikendalikan agar tidak merusak organ tubuh dan memungkinkan pasien tetap hidup produktif.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi, dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR, menegaskan tujuan utama terapi lupus adalah mencapai kondisi remisi, yakni penurunan aktivitas penyakit.

“Lupus itu adalah penyakit kronis yang tidak akan pernah sembuh. Jadi dia bisa up and down, tapi kita maunya tentu ada di situasi penurunan aktivitas penyakit atau remisi,” ujar dr. Sandra dalam konferensi Hari Lupus Sedunia, di Jakarta Selatan, Selasa (26/5/2026).

 
Penyakit “Berwajah Seribu” dan Bisa Kambuh

Lupus dikenal sebagai penyakit dengan gejala yang beragam sehingga sering sulit dikenali sejak awal. Kondisinya dapat membaik (remisi), tetapi juga dapat kembali aktif sewaktu-waktu.

Istilah medis remisi merujuk pada kondisi ketika gejala penyakit menurun atau tidak aktif sementara.

Menurut dr. Sandra, pengendalian peradangan menjadi kunci utama agar organ vital seperti ginjal, jantung, paru, dan sistem saraf tidak mengalami kerusakan permanen.

 
Diagnosis Sering Terlambat Hingga Bertahun-tahun

Ilustrasi penyakit lupus (freepik)

Salah satu tantangan terbesar lupus di Indonesia adalah keterlambatan diagnosis karena gejalanya tidak spesifik.

“Karena dia berwajah seribu, keterlambatan diagnosis ini bisa sampai 6 tahun,” kata dr. Sandra.

Padahal, sekitar 50 persen pasien lupus dapat mengalami kerusakan organ dalam lima tahun setelah diagnosis. Kondisi ini meningkatkan risiko komplikasi berat.

Baca juga: Lupus Banyak Serang Wanita Muda, Gejala Sepele Sering Terlambat Dideteksi

 
Kerusakan Organ Jadi Faktor Penentu Risiko Kematian

Bahaya utama lupus bukan hanya penyakitnya, tetapi dampaknya terhadap organ tubuh.

“Gangguan organ inilah yang menyebabkan kondisi fatal pada pasien-pasien lupus,” ujarnya.

Karena itu, deteksi dini menjadi faktor penting untuk mencegah komplikasi yang bersifat permanen.

 
Terapi Tersedia di Indonesia, Termasuk Obat Modern

Pengobatan lupus saat ini sudah tersedia di Indonesia tanpa harus ke luar negeri. Pilihan terapi meliputi kortikosteroid, hydroxychloroquine, imunosupresan, hingga terapi terbaru seperti anifrolumab.

Anifrolumab bekerja dengan menekan interferon tipe 1, yaitu protein yang berperan dalam proses peradangan lupus, sehingga aktivitas penyakit dapat dikendalikan.

 
Efek Samping Steroid Jadi Tantangan Pengobatan

Kortikosteroid masih menjadi terapi utama, tetapi penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan efek samping seperti kenaikan berat badan, jerawat, osteoporosis, hingga gangguan kardiovaskular.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini