Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- WHO memberi peringatan serius soal Virus Nipah.
- Penyakit zoonosis mematikan ini bisa menular lewat makanan yang terkontaminasi termasuk buah segar.
- Buah yang tampak segar dan sehat belum tentu aman jika tidak melalui proses pembersihan yang tepat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Gaya hidup sehat sering diidentikkan dengan rajin makan buah segar.
Tapi di balik kebiasaan yang terlihat sepele itu, WHO memberi peringatan serius soal Virus Nipah, penyakit zoonosis mematikan yang bisa menular lewat makanan yang terkontaminasi.
Baca juga: Kenali Cara Penularan Virus Nipah, Bisa Dari Buah Aren yang Tidak Dimasak
Dalam lembar fakta WHO tertanggal 29 Januari 2026, Virus Nipah disebut sebagai virus yang berasal dari hewan namun mampu menyerang manusia, dengan tingkat kematian yang tak main-main, mencapai 40 hingga 75 persen.
“Virus Nipah adalah virus zoonosis, biasanya ditularkan dari hewan ke manusia, tetapi juga dapat ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi atau langsung antar manusia,"tulis WHO pada website resmi dilansir, Selasa (3/2/2026).
Kelelawar Buah dan Makanan Segar, Kombinasi yang Perlu Diwaspadai
Virus Nipah memiliki inang alami berupa kelelawar buah dari famili Pteropodidae. Pada hewan ini, virus tidak menimbulkan penyakit.
Baca juga: Kemenkes Terbitkan SE Waspada Virus Nipah, Cuci, Kupas & Buang Buah Bekas Gigitan Kelelawar
Namun masalah muncul ketika virus berpindah ke manusia, salah satunya melalui buah-buahan atau produk buah yang terkontaminasi.
WHO menjelaskan, penularan dapat terjadi ketika manusia mengonsumsi buah segar atau produk buah, seperti jus kurma mentah, yang terpapar oleh kelelawar buah yang terinfeksi.
Buah yang tampak segar dan sehat belum tentu aman jika tidak melalui proses pembersihan yang tepat.
Gejalanya Mirip Flu, Tapi Bisa Berakhir Fatal
Yang membuat Virus Nipah berbahaya adalah gejalanya yang sering tampak ringan di awal.
Penderitanya bisa mengalami demam, sakit kepala, atau batuk. Namun pada banyak kasus, virus ini menyerang sistem saraf dan pernapasan.
“Penyakit parah dapat terjadi pada pasien mana pun, tetapi terutama dikaitkan dengan orang-orang yang menunjukkan gejala neurologis, dengan perkembangan menjadi pembengkakan otak (ensefalitis) dan, seringkali, kematian,"imbuhnya.
Tak hanya itu, sekitar 1 dari 5 orang yang sembuh dilaporkan mengalami gangguan neurologis jangka panjang.
Belum Ada Obat atau Vaksin, WHO Tekankan Pencegahan Sehari-hari
Hingga kini, Virus Nipah belum memiliki obat atau vaksin yang disetujui. Penanganan medis bersifat suportif dan sangat bergantung pada deteksi dini serta perawatan intensif.
Karena itu, WHO menekankan pentingnya pencegahan berbasis kebiasaan sehari-hari.
Mulai dari mencuci dan mengupas buah sebelum dikonsumsi, merebus sari kurma mentah, hingga membuang buah yang menunjukkan tanda gigitan kelelawar.
WHO juga mengingatkan pentingnya menghindari konsumsi makanan segar yang berpotensi terkontaminasi di wilayah berisiko, sebagai bagian dari gaya hidup sadar kesehatan.
Di era urban, gaya hidup sehat bukan hanya soal memilih makanan alami, tapi juga soal cara mengonsumsinya dengan aman.
Virus Nipah menjadi pengingat bahwa kebiasaan kecil, seperti makan buah tanpa dicuci, bisa membawa risiko besar jika diabaikan.
WHO sendiri terus memantau perkembangan Virus Nipah dan menetapkannya sebagai penyakit prioritas global, sambil mendorong peningkatan kesadaran publik agar pencegahan dimulai dari dapur dan meja makan.
Baca tanpa iklan